Steven Hamill, seorang pria berusia 26 tahun, harus merelakan organ vitalnya diamputasi sepanjang 4 inci akibat serangan kanker penis yang agresif. Kondisi medis langka ini memaksa dilakukannya prosedur bedah invasif untuk mengangkat sel kanker yang telah mengikis sebagian besar jaringan tubuhnya.
Kisah ini bermula pada tahun 2019 ketika pria tersebut mendapati alat kelaminnya membengkak secara ekstrem setelah bangun tidur. Dilansir dari Detik Health, Hamill sempat mengabaikan kondisi awal tersebut sebelum akhirnya mengalami pendarahan hebat saat berada di dapur rumahnya.
"Saya melihat ke bawah dan ada darah di mana-mana, seperti di lemari, di kaki saya, dan seluruh lantai dapur," kata Hamill.
Setelah insiden pendarahan tersebut, Hamill segera menemui tim medis untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. Namun, diagnosis awal justru menepis kemungkinan keganasan karena faktor usia pasien yang dianggap terlalu muda untuk mengidap penyakit tersebut.
Tenaga medis awalnya menduga ia hanya menderita balanitis atau infeksi bakteri pada kepala penis yang biasanya ditangani dengan steroid topikal. Ketidaktepatan diagnosis ini sempat memberikan rasa lega sementara bagi Hamill sebelum gejala yang lebih menyakitkan muncul.
"Satu-satunya cara saya menggambarkan rasa sakit ini adalah, jika saya memiliki jarum dan terus menerus menusuk kepala saya setiap detik, tanpa ada jeda sama sekali," kata Hamill.
Rasa sakit yang tak tertahankan tersebut membuat pola tidurnya terganggu secara drastis selama berhari-hari. Hamill mengungkapkan bahwa hanya mandi air hangat dalam durasi lama yang mampu meredakan penderitaan fisik yang dialaminya saat itu.
"Satu-satunya waktu saya bisa tidur adalah ketika tubuh saya benar-benar kelelahan dua hari kemudian, atau saya mandi slama lma jam, karena air hangat meredakannya. Rasa sakitnya memang sangat mengerikan," tambah Hamill.
Kondisi Hamill semakin memburuk tepat satu hari sebelum pernikahan saudara perempuannya hingga ia pingsan akibat pendarahan. Meski dalam keadaan darurat, ia sempat memilih untuk menunda perawatan rumah sakit demi menghadiri acara keluarga tersebut menggunakan alat bantu medis sementara.
"Aku cuma berpikir, 'Kau tahu apa? aku akan memakai salah satu pembalut inkontinesia dewasa itu, menaruhnya di bawah jas, dan mengatasi rasa sakitnya dengan pengobatan sendiri,'" katanya.
Setelah pemeriksaan mendalam oleh ahli urologi dan spesialis kanker, ditemukan fakta bahwa kanker telah mengikis jaringan organ vitalnya secara signifikan. Kerusakan jaringan tersebut digambarkan menyerupai kawah akibat sifat sel kanker yang sangat korosif terhadap daging.
"Ini seperti kawah besar di dalamnya," katanya.
Pendarahan berkelanjutan yang dialami pasien disebabkan oleh aktivitas sel kanker yang terus merusak struktur pembuluh darah dan jaringan sekitarnya. Hal ini membuat opsi pembedahan radikal menjadi satu-satunya jalan keluar untuk menyelamatkan nyawa pasien.
"Kanker itu terus menggerogoti dan itulah penyebab pendarahan itu," tambah Hamill.
Prosedur operasi yang dijalani Hamill melibatkan pengangkatan sekitar 4 inci dari bagian kepala penis guna memastikan seluruh sel ganas telah dibersihkan. Operasi besar ini sempat memicu kekhawatiran tinggi di kalangan tim bedah mengenai peluang keselamatan pasien selama di meja operasi.
Pasca operasi dan dinyatakan sembuh, pria tersebut kini mendedikasikan waktunya untuk melakukan kampanye edukasi mengenai bahaya kanker penis. Hamill menekankan pentingnya kesadaran dini terhadap gejala-gejala aneh pada tubuh meskipun usia pasien masih tergolong muda.
"Sekarang, saya melihat kehidupan dengan cara yang berbeda," kata Hamill.