Penyakit jantung koroner (PJK) tetap menjadi ancaman serius sebagai salah satu pemicu kematian tertinggi secara global, termasuk di Indonesia. Masalah ini dipicu oleh penyempitan pembuluh darah koroner yang menghambat suplai darah ke otot jantung.
Hambatan aliran darah tersebut secara langsung meningkatkan risiko serangan jantung fatal bagi penderitanya. Guna menangani kondisi ini, kemunculan teknologi medis terbaru menjadi krusial untuk memberikan penanganan yang lebih presisi.
Teknologi Intravascular Lithotripsy (IVL) kini diperkenalkan sebagai metode inovatif guna menghancurkan penyumbatan pembuluh darah akibat endapan kalsium yang mengeras atau kalsifikasi. Seperti dilansir dari Detik Health, metode ini menawarkan cara baru untuk mengusir plak kapur yang sulit ditembus prosedur biasa.
Mekanisme kerja litotripsi intravaskular ini merupakan adaptasi dari teknologi pemecah batu ginjal yang dikenal sebagai extracorporeal shock wave lithotripsy (ESWL). Keduanya sama-sama memanfaatkan gelombang ultrasonik untuk menghancurkan massa keras tanpa melalui operasi besar.
Perbedaan utamanya terletak pada cara pengaplikasiannya, di mana IVL dimasukkan secara internal langsung ke dalam pembuluh darah melalui bantuan kateter. Teknologi ini dirancang khusus untuk memecahkan kalsifikasi yang menyumbat jalur aliran darah.
Dr dr Sunanto, SpJP(K), spesialis jantung dan pembuluh darah dari Siloam Hospitals Lippo Village menjelaskan bahwa IVL sebenarnya sudah tersedia secara global sejak lima tahun lalu.
"Dan di Indonesia kira-kira mungkin dalam setahun terakhir ya masuk ke Indonesia," kata konsultan kardiologi intervensi tersebut saat berbincang dengan detikcom di sela-sela Siloam Cardiac Summit 2026, Sabtu (25/4/2026).
Indikasi Penggunaan IVL bagi Pasien
Penerapan prosedur IVL biasanya ditujukan bagi pasien yang memerlukan tindakan lanjutan seperti pemasangan ring jantung (stent). Tidak semua kasus penyumbatan memerlukan intervensi gelombang ultrasonik ini.
"Kalau standarnya, kami nggak pakai IVL. Kalau misalnya ada plak tapi tidak berkapur, itu kami nggak usah pakai IVL. Kami pakai balon atau kalau ada bekuan darah, kami sedot. Setelah sudah bagus, baru kami pasang stent (ring jantung)," ujar dr Sunanto.
Penyumbatan pada pembuluh darah jantung dapat dianalogikan seperti kerak yang menumpuk pada dinding pipa ledeng. Endapan lemak, kolesterol, dan kalsium yang menempel lama-kelamaan akan mengganggu kinerja jantung secara keseluruhan.
Jika plak tersebut pecah, dampaknya bisa memicu pembentukan bekuan darah secara mendadak. Kondisi ini menyebabkan pembuluh darah tersumbat total yang kemudian memicu serangan jantung tiba-tiba.
Pentingnya Deteksi Dini
Serangan jantung akibat koroner tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses akumulasi yang panjang. Oleh karena itu, skrining kesehatan jantung sangat disarankan meskipun seseorang belum merasakan gejala yang nyata.
Dr Sunanto menyebutkan beberapa metode skrining yang bisa dilakukan mulai dari treadmill, CT Scan, hingga pemeriksaan calcium score untuk akurasi yang lebih tinggi.
Sebagai langkah antisipasi darurat, Siloam Hospitals Lippo Village kini telah berstatus sebagai Chest Pain Ready Hospital (CPRH). Fasilitas ini menjamin penanganan kegawatdaruratan jantung dilakukan secara terintegrasi dengan tim multidisiplin yang bersiaga penuh selama 24 jam.
Sistem ini mencakup pemeriksaan EKG dalam waktu kurang dari 10 menit sejak pasien tiba di IGD hingga kesiapan laboratorium kateterisasi (Cath Lab). Prinsip utama yang dipegang adalah "time is muscle", yang berarti kecepatan penanganan sangat menentukan penyelamatan otot jantung dan peluang hidup pasien.