Emiten Rokok Andalkan Efisiensi Hadapi Tekanan Daya Beli Tahun 2026

Emiten Rokok Andalkan Efisiensi Hadapi Tekanan Daya Beli Tahun 2026

Sejumlah emiten rokok di Indonesia mencatatkan pertumbuhan laba bersih melalui langkah efisiensi pada kuartal I/2026 di tengah penurunan volume penjualan akibat melemahnya daya beli masyarakat dan tren perpindahan konsumsi ke produk lebih murah. Kondisi ini membuat prospek saham sektor tembakau diperkirakan masih terbatas sepanjang tahun meski pemerintah menahan kenaikan tarif cukai.

Dilansir dari Market, laporan keuangan menunjukkan adanya kontras pada kinerja perusahaan besar seperti PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. (HMSP) dan PT Gudang Garam Tbk. (GGRM). Walaupun penjualan terkontraksi, laba bersih kedua perusahaan tetap tumbuh yang dipicu oleh penghematan operasional alih-alih perbaikan permintaan fundamental.

Analisis mengenai situasi pasar ini disampaikan oleh Analis Senior Indonesia Strategic and Economics Institution (ISEAI), Ronny P. Sasmita, pada Senin (4/5/2026). Ia menyoroti bahwa pertumbuhan laba saat ini belum mencerminkan kesehatan industri secara menyeluruh.

"Kinerja kuartal I yang menunjukkan laba tumbuh di tengah penjualan yang terkontraksi lebih mencerminkan keberhasilan efisiensi, bukan perbaikan fundamental permintaan," kata Ronny P. Sasmita, Analis Senior Indonesia Strategic and Economics Institution (ISEAI).

Fenomena downtrading menjadi faktor utama yang mengubah peta persaingan, di mana konsumen beralih ke merek dengan harga lebih ekonomis. Hal ini memberikan keuntungan bagi pemain kecil seperti PT Wismilak Inti Makmur Tbk. (WIIM) yang mencatatkan pertumbuhan signifikan dibandingkan pemain premium.

"Fenomena downtrading akan tetap dominan, di mana konsumen tidak berhenti merokok tetapi berpindah ke segmen harga yang lebih rendah. Ini membuat emiten besar seperti HM Sampoerna dan Gudang Garam menghadapi tekanan volume dan pricing power, sementara pemain yang lebih fleksibel di segmen bawah seperti Wismilak Inti Makmur cenderung lebih adaptif," jelas Ronny P. Sasmita, Analis Senior Indonesia Strategic and Economics Institution (ISEAI).

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, memberikan pandangan netral terhadap sektor ini karena minimnya cerita pertumbuhan. Ia menyebutkan bahwa kenaikan harga saham beberapa emiten baru-baru ini lebih disebabkan oleh penilaian ulang pasar terhadap pemulihan laba.

"Market memang memberi re-rating karena laba sempat rebound, tapi kenaikan laba lebih banyak dari efisiensi, bukan volume growth. Jadi secara fundamental, upside masih terbatas kalau tidak ada perbaikan demand," ujar Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas.

Wafi menambahkan bahwa industri ini masih menghadapi tantangan berat dari kebijakan layer CHT baru dan peredaran rokok ilegal yang mengancam volume penjualan. Namun, stabilitas arus kas dan pembagian dividen tetap menjadi daya tarik bagi investor yang mencari keamanan.

"Tapi overall, sektor ini lebih ke stabil, tapi tidak tumbuh tinggi," tandas Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas.

Tantangan tambahan muncul dari wacana kebijakan standarisasi kemasan polos oleh Kementerian Kesehatan. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai hal tersebut berisiko meningkatkan peredaran produk ilegal karena hilangnya identitas visual merek.

"Itu sebenarnya juga bisa menyuburkan rokok ilegal karena konsumen tidak bisa membedakan produk. Dikhawatirkan begitu. Ini juga bisa jadi tantangan bagi emiten rokok," kata Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas.

Meski demikian, kepastian beban cukai yang tidak naik tahun ini memberikan sedikit ruang bagi emiten untuk bernapas. Hal tersebut menjadi sentimen positif utama yang menjaga valuasi saham emiten rokok agar tidak merosot tajam di pasar modal.

"Sebenarnya [harga saham emiten rokok] saat ini belum overvalued. Apalagi, sentimen positif utamanya adalah keputusan pemerintah yang tidak menaikkan tarif CHT tahun ini. Ini tentunya ada kepastian beban cukai terhadap emiten," pungkas Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas.

Artikel terkait

Rekomendasi