Prospek kinerja PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) diperkirakan tetap positif sepanjang tahun 2026. Sektor ini menunjukkan resiliensi meskipun pertumbuhan produksi diproyeksi terbatas akibat pengaruh cuaca dan profil kebun yang mulai menua, seperti dikutip dari Investasi.
Emiten ini membukukan pendapatan sebesar Rp 2,5 triliun pada kuartal I-2026. Angka tersebut mengalami penurunan sebesar 5% secara tahunan atau year on year (YoY) jika dibandingkan dengan Rp 2,62 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penyusutan pendapatan ini turut berdampak pada raihan laba bersih perseroan. Laba bersih yang tercatat pada kuartal pertama tahun ini berada di angka Rp 767 billion, turun 8% YoY dari Rp 834 miliar pada periode sebelumnya.
Faktor utama pemicu penurunan kinerja ini adalah menyusutnya volume produksi. Produksi tandan buah segar (FFB) merosot 6% YoY menjadi sekitar 698.000 ton dari capaian kuartal pertama tahun 2025 yang sebesar 741.000 ton.
Penurunan juga terjadi pada produksi minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) sebesar 2% YoY, sementara hasil FFB menyusut sebesar 3% YoY. Namun, pelemahan tersebut dapat tertahan berkat kenaikan tingkat ekstraksi minyak (oil extraction rate/OER) sekitar 1% YoY.
Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Yasmin Soulisa memprediksi kinerja emiten berkode saham TAPG ini masih akan tumbuh moderat sepanjang 2026. Kondisi tersebut didukung oleh faktor cuaca yang dinilai relatif menguntungkan seperti tahun lalu.
"Kami memperkirakan pertumbuhan sekitar 2% YoY pada produksi FFB dan CPO. Risiko penurunan utama berasal dari potensi kondisi kekeringan yang berkepanjangan dalam beberapa bulan mendatang, yang dapat membatasi pemulihan hasil panen hingga tahun depan," tulis Yasmin pada riset tanggal 24 April 2026.
Yasmin menambahkan bahwa ruang pertumbuhan produksi perusahaan kini mulai dibatasi oleh profil kebun yang semakin matang. Hal ini seiring dengan meningkatnya proporsi tanaman kelapa sawit yang telah berusia di atas 20 tahun.
Kendati demikian, Yasmin tetap optimistis terhadap prospek profitabilitas perseroan ke depan. Ia memproyeksikan laba bersih perusahaan pada 2026 mampu menyentuh Rp 5,10 triliun, atau melonjak 38% YoY dari realisasi tahun 2025 yang sebesar Rp 3,7 triliun.
Pendapatan perseroan juga diproyeksikan merangkak naik menjadi Rp 12,31 triliun dari Rp 11,4 triliun pada tahun sebelumnya. Ekspektasi positif ini ditopang oleh harga komoditas CPO global yang diperkirakan tetap bertahan di level tinggi.
Yasmin menaksir harga CPO global pada 2026 akan berada di level RM 4.500 per ton atau menguat 4,7% YoY. Lonjakan harga dipicu oleh potensi cuaca kering yang mengganggu produktivitas serta tambahan permintaan dari implementasi program biodiesel B50 di Indonesia.
"Harga CPO yang tetap kuat dan kontrol biaya yang efisien diperkirakan akan menopang margin perseroan," tulis Yasmin.
Pandangan serupa datang dari analis Ajaib Sekuritas Asia, Alvin Timothy Murthi yang menilai fundamental industri komoditas ini masih kondusif hingga 2026. Program B50 dan penurunan stok CPO Indonesia sekitar 10% YoY berpotensi menjaga harga tetap tinggi dalam jangka pendek.
Alvin memandang profil umur tanaman milik perseroan masih berada dalam kondisi yang relatif baik. Hingga Maret 2026, sekitar 81,9% dari total area tertanam dihuni oleh tanaman usia produktif prima antara 7 hingga 20 tahun, dengan rata-rata umur kebun 14,6 tahun.
Pada aspek industri, permintaan komoditas kelapa sawit untuk pasar domestik maupun ekspor menunjukkan tren peningkatan. Lonjakan permintaan ini terjadi menjelang pemberlakuan program biodiesel B50 pada Juli 2026.
Konsumsi domestik tercatat menyentuh 4,4 juta ton pada dua bulan pertama tahun 2026, atau naik sebesar 13% YoY. Sementara itu, volume ekspor melonjak hingga 34% YoY menjadi 6,4 juta ton, dan permintaan untuk sektor biodiesel terangkat 15,3% YoY menjadi 2,2 juta ton.
Alvin mempertahankan rekomendasi hold untuk saham TAPG dengan menetapkan target harga sebesar Rp 2.200 per saham, naik dari proyeksi sebelumnya Rp 1.500 per saham. Ia menilai ruang penguatan harga saham dalam jangka pendek mulai terbatas setelah melaju 34% sejak awal tahun.
Di sisi lain, Yasmin Soulisa menaikkan rekomendasi untuk saham TAPG menjadi buy. Ia memasang target harga baru di level Rp 2.300 per saham dari sebelumnya Rp 1.940 per saham, didorong oleh realisasi kinerja tahun 2025 yang melampaui ekspektasi serta proyeksi pendapatan sebesar Rp 12,31 triliun sepanjang tahun 2026.