PT Prudential Sharia Life Assurance atau Prudential Syariah mencatatkan pertumbuhan total kontribusi bruto mencapai Rp4,2 triliun pada tahun 2025. Capaian tersebut tumbuh sebesar 9 persen dibandingkan dengan perolehan pada tahun sebelumnya, seperti dilansir dari Keuangan.
Pertumbuhan kinerja ini juga terlihat dari kontribusi bisnis baru perusahaan yang mencapai Rp1 triliun pada 2025, atau tumbuh sebesar 31 persen secara tahunan. Melalui hasil tersebut, Prudential Syariah kini mendominasi pangsa pasar industri asuransi sebesar 22 persen.
Dari sisi pengelolaan, total aset perusahaan tumbuh 20 persen secara tahunan menjadi Rp8 triliun pada 2025. Sementara itu, total aset investasi juga mencatatkan pertumbuhan sebesar 17 persen secara tahunan menjadi Rp6 triliun pada periode yang sama.
Presiden Direktur Prudential Syariah Iskandar Ezzahuddin menjelaskan ada tiga faktor pendorong kinerja pada tahun 2025, yaitu ketersediaan produk perlindungan yang lengkap, besarnya kanal distribusi keagenan maupun bancassurance, serta tingginya kepercayaan dari nasabah.
"Kami mempunyai produk yang lengkap dalam industri asuransi syariah, mulai dari kesehatan, penyakit kritis, hingga produk investasi," ungkap Iskandar Ezzahuddin, Presiden Direktur Prudential Syariah saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (12/5/2026).
Perusahaan saat ini didukung oleh kekuatan jaringan pemasaran yang masif. Tercatat Prudential Syariah memiliki lebih dari 64.000 agen dan telah menjalin kemitraan dengan bank syariah terbesar di Indonesia, yakni Bank Syariah Indonesia.
"Kami terus mendukung nasabah setiap kali ada masalah dan saat mereka paling membutuhkan kami. Jadi, kombinasi dari ketiga hal tersebut adalah pendorong utama pertumbuhan kinerja kami pada 2025," kata Iskandar Ezzahuddin, Presiden Direktur Prudential Syariah.
Terkait fokus pengembangan, manajemen menjelaskan bahwa perusahaan sengaja mengarahkan strategi pada produk perlindungan tradisional dalam dua tahun terakhir. Hal tersebut dilakukan karena pasar Indonesia dinilai masih kekurangan produk yang berfokus pada perlindungan akibat industri yang sebelumnya berfokus pada unitlink.
"Kami lihat di Indonesia kekurangan produk yang berfokus pada perlindungan. Oleh karena itu, pengembangan produk kami pada 2024 dan 2025 lebih berfokus ke produk perlindungan yang menghadirkan premi lebih terjangkau," tutur Iskandar Ezzahuddin, Presiden Direktur Prudential Syariah.
Meski berfokus pada produk tradisional, manajemen melihat produk unitlink tetap memiliki potensi besar ke depan dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Chief Customer Marketing Officer Prudential Syariah Vivin Arbianti Gautama kemudian memaparkan jenis produk perlindungan yang paling diminati oleh para nasabah.
"Jadi, terlihat sekali bahwa kesadaran masyarakat untuk melindungi diri dan keluarganya dari penyakit kritis itu sangat tinggi. Dengan demikian, perolehan premi kami paling besar penyakit kritis," ujar Vivin Arbianti Gautama, Chief Customer Marketing Officer Prudential Syariah.
Produk perlindungan untuk asuransi jiwa jangka panjang menjadi penyumbang pendapatan premi terbesar kedua bagi perusahaan. Posisi tersebut kemudian diikuti oleh produk perlindungan asuransi kesehatan pada urutan selanjutnya.
Direktur Prudential Syariah Mandar Hastekar menambahkan bahwa perusahaan saat ini mengelola 5 produk unitlink dengan jenis investasi yang bervariasi untuk memenuhi kebutuhan pasar. Manajemen mengelola instrumen tersebut secara tepat guna menghadapi tantangan volatilitas pasar.
"Nasabah memang bisa memilih berdasarkan fund yang diinvestasikan, tetapi performa fund dari unitlink kami masih cukup kuat," ucap Mandar Hastekar, Direktur Prudential Syariah.
Kesehatan keuangan perusahaan juga tercermin dari tingkat solvabilitas atau Risk Based Capital (RBC) Prudential Syariah yang berada jauh di atas ketentuan regulator. Kinerja finansial tersebut ditutup dengan catatan RBC dana perusahaan sebesar 1.496 persen dan RBC Dana Tabarru' sebesar 209 persen.