Psikolog Klinis Rumah Sakit Jiwa Daerah Atma Husada Mahakam, Raden Roro Rani Meita Pratiwi, menekankan pentingnya pengelolaan kecemasan di lingkungan kerja guna menjaga produktivitas dan kesehatan mental pada Senin (11/5/2026). Masalah ini dipicu oleh ketidakpastian ekonomi dan perubahan lingkungan kerja yang dinamis.
Kondisi beban mental tersebut dilatarbelakangi oleh berbagai faktor, mulai dari kekhawatiran terhadap keamanan posisi pekerjaan, tekanan target, hingga ketakutan melakukan kesalahan fatal. Masalah pribadi yang terbawa ke kantor serta kurangnya apresiasi juga menjadi pemicu signifikan, sebagaimana dilansir dari Lifestyle.
"Kecemasan sering muncul karena adanya ketidakpastian, seperti kekhawatiran apakah posisi pekerjaan saat ini aman, adanya perubahan kebijakan, hingga tekanan ekonomi," ujar Rani.
Gejala kecemasan yang dibiarkan berisiko berkembang menjadi keletihan mental yang sering kali tidak disadari oleh pekerja. Tanda-tanda yang perlu diwaspadai meliputi rasa mudah lelah, kehilangan fokus, kejenuhan yang berkepanjangan, hingga sensitivitas berlebih saat berinteraksi dengan rekan sejawat.
"Gejala seperti menjadi sensitif atau mudah tersinggung saat berinteraksi dengan rekan kerja merupakan tanda seseorang sedang mengarah pada kondisi keletihan mental," katanya.
Terdapat perbedaan mendasar antara stres dan kecemasan dalam konteks profesional. Stres umumnya bersumber dari tekanan yang jelas seperti tenggat waktu dan mereda setelah masalah tuntas, sedangkan kecemasan berfokus pada spekulasi buruk di masa depan yang belum tentu terjadi.
Menurutnya, kecemasan merupakan reaksi emosional terhadap skenario buruk yang dipikirkan terus-menerus.
Guna mengatasi kondisi tersebut, pekerja disarankan untuk fokus pada tugas yang sedang dijalani dan tidak memaksakan penyelesaian semua persoalan secara simultan. Teknik relaksasi seperti mengatur napas dan memperlambat gerakan tubuh dapat membantu menurunkan detak jantung saat serangan panik muncul.
"Kesadaran untuk hadir di masa kini sangat penting karena cemas berlebihan terhadap hal yang belum pasti hanya akan merenggut kebahagiaan," katanya.
Selain aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki untuk memperbaiki suasana hati, kemampuan menerima masukan juga dianggap krusial. Ketahanan mental didefinisikan sebagai kemampuan untuk bertahan dan berkembang, alih-alih hanya berpura-pura kuat di tengah situasi yang tidak menentu.