PT PP Tbk (PTPP) mencatatkan perolehan nilai kontrak baru sebesar Rp6,88 triliun per April 2026 sebagai sinyal awal pemulihan kinerja perseroan pada tahun ini. Informasi perolehan kontrak emiten konstruksi tersebut dilansir dari Investasi pada Kamis (21/5/2026).
Proyek dari pemerintah mendominasi perolehan kontrak baru PTPP sebesar 82 persen, disusul proyek BUMN sebesar 10 persen dan pihak swasta sebesar 8 persen. Berdasarkan lini bisnis, kontribusi terbesar disumbang dari sektor jalan dan jembatan dengan porsi mencapai 35 persen.
Sektor disaster response berkontribusi sebesar 26 persen, rumah sakit 16 persen, serta smelter dan pertambangan sebesar 10 persen. Sementara itu, sektor gedung menyumbang 6 persen, pelabuhan 3 persen, sumber daya air 3 persen, dan infrastruktur air 2 persen.
Proyek pembangunan Jalan Kspean Wanam-Muting Segmen 1 menjadi kontributor terbesar pada bulan April 2026 dengan nilai kontrak mencapai Rp1,77 triliun. Manajemen PTPP mengakui dinamika makro ekonomi dan geopolitik global saat ini masih memberikan tekanan pada komponen biaya operasional.
“Perseroan terus melakukan monitoring dan review secara berkala terhadap dampaknya terhadap operasional maupun margin proyek,” ujarnya Joko Raharjo, Corporate Secretary PTPP pada Kamis (21/5/2026).
Kondisi pasar konstruksi saat ini dinilai pengamat pasar modal belum pulih sepenuhnya, namun perolehan tersebut memperlihatkan pipa proyek perseroan mulai bergerak kembali. Tekanan ekonomi luar juga datang dari kenaikan suku bunga Bank Indonesia sebesar 50 basis poin ke level 5,25 persen.
“Yang lebih penting bukan cuma nilai kontrak, tapi kualitas kontraknya,” ujarnya Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas pada Kamis (21/5/2026).
Muhammad Wafi menambahkan bahwa PTPP masih berada dalam fase transisi sepanjang tahun 2026 dengan tantangan kompetisi yang semakin ketat. Pasar saat ini juga masih memberikan diskon terhadap valuasi PTPP karena mencermati kualitas laba serta arus kas perusahaan.
“Namun tantangannya kompetisi proyek makin ketat, tekanan margin konstruksi, cash flow, dan ketidakpastian arah restrukturisasi/merger BUMN karya,” katanya Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas.
Analis melihat bahwa perbaikan konversi kas dan konsistensi pertumbuhan kontrak baru akan menjadi katalis utama bagi pergerakan saham perseroan ke depan. Saham PTPP saat ini direkomendasikan trading buy dengan target harga sebesar Rp310 per lembar saham.
“Katalis kenaikan yang lebih penting adalah perbaikan cash conversion, pertumbuhan kontrak baru yang konsisten, dan kepastian restrukturisasi BUMN karya,” katanya Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas.
Penilaian senada mengenai indikasi awal pemulihan nilai kontrak PTPP diungkapkan oleh analis sekuritas lain yang memantau pergerakan industri konstruksi. Keberlanjutan dari pemulihan tersebut sangat bergantung pada realisasi proyek dan percepatan proses tender di lapangan.
“Ini menunjukkan aktivitas proyek mulai bergerak, namun keberlanjutan pemulihan tetap bergantung pada percepatan tender dan realisasi proyek pemerintah maupun swasta,” ujarnya Sukarno Alatas, Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia pada Kamis (21/5/2026).
Sukarno Alatas menjelaskan bahwa kinerja operasional PTPP tahun ini sangat bertumpu pada penyelesaian proyek tepat waktu dan perbaikan likuiditas perusahaan. Risiko transisi dari rencana penggabungan atau merger BUMN karya turut menjadi perhatian karena berpotensi menekan kinerja jangka pendek.
”Namun tantangannya berasal dari kenaikan suku bunga, beban utang, serta risiko transisi jika merger BUMN karya terealisasi, yang berpotensi menekan kinerja jangka pendek,” ungkapnya Sukarno Alatas, Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia.
Investor disarankan untuk terus memantau profitabilitas dan tingkat utang sebelum mengambil keputusan investasi terhadap saham perusahaan. Untuk saat ini, saham PTPP direkomendasikan wait and see setelah menyentuh level terendah sepanjang masa di Rp210 per saham.
“Investor perlu mencermati utang, profitabilitas, serta progres proyek berjalan,” katanya Sukarno Alatas, Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia.
Di sisi lain, sentimen positif eksternal diharapkan muncul dari keberadaan Danantara yang dapat mempermudah akses pembiayaan untuk proyek-proyek strategis jangka panjang. Langkah taktis dari anak usaha berupa pelepasan aset juga dinilai menjadi sentimen penguat struktur permodalan.
“Merger BUMN karya juga bisa mengefisiensikan biaya operasional dan menghilangkan kanibalisasi tender sesama BUMN,” ujarnya Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas pada Kamis (21/5/2026).
Perbaikan struktur modal tersebut salah satunya diupayakan melalui aksi korporasi PT PP Presisi Tbk (PPRE) yang berencana melakukan divestasi anak usahanya. PPRE akan menjual 51 persen saham PT Lancarjaya Mandiri Abadi (LMA) senilai Rp1,61 triliun kepada PT Lancarjaya Investama Abadi untuk mengurangi beban utang.