PT PP Tbk (PTPP) menerapkan langkah mitigasi strategis guna menghadapi depresiasi nilai tukar rupiah dan peningkatan suku bunga acuan dalam menjaga keberlangsungan proyek serta profitabilitas perusahaan, Kamis (21/5/2026).
Dilansir dari Investasi, mata uang rupiah di pasar spot ditutup melemah ke posisi Rp 17.667 per dolar Amerika Serikat (AS), sementara kurs JISDOR BI bertengger pada level Rp 17.673 per dolar AS. Pada saat yang sama, Bank Indonesia mengerek suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen.
Tekanan makroekonomi tersebut diakui berdampak langsung pada sektor infrastruktur, terutama terkait lonjakan biaya operasional logistik, pengadaan alat berat, serta ongkos pembiayaan.
Corporate Secretary PTPP, Joko Raharjo menjelaskan bahwa manajemen bergerak cepat memantau situasi finansial global demi mengamankan margin keuntungan perseroan.
"PTPP terus melakukan monitoring dan review secara berkala terhadap dampaknya terhadap operasional maupun margin proyek," ujarnya kepada Kontan, Kamis.
Guna mengatasi situasi tersebut, emiten konstruksi plat merah ini berfokus pada efisiensi pengadaan barang, selektivitas dalam membidik proyek baru, serta memperketat pengawasan arus kas. Langkah penyehatan finansial juga ditempuh melalui rencana pelepasan kepemilikan aset di bidang properti, energi, dan infrastruktur sepanjang tahun 2026.
"Dengan langkah tersebut, PTPP diharapkan dapat memperkuat daya saing dan fondasi bisnis Perseroan secara berkelanjutan," katanya.
Selain strategi internal, perseroan berkomitmen penuh menyukseskan program restrukturisasi BUMN Karya yang digulirkan oleh pemerintah bersama Badan Pengelola BUMN atau Danantara Indonesia. Koordinasi intensif sebelumnya telah dijalin bersama Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria.
Joko bilang, perseroan terus menjalankan arahan transformasi secara disiplin dan konsisten, baik dari aspek keuangan, tata kelola, operasional, maupun manajemen risiko.
"PTPP meyakini langkah transformasi ini akan memperkuat struktur industri konstruksi nasional agar lebih sehat, adaptif, kompetitif, dan berkelanjutan ke depan," tuturnya.