PT Pupuk Indonesia (Persero) mengoperasikan Command Center di Jakarta sebagai pusat kendali untuk memantau distribusi pupuk nasional secara real-time dari pabrik hingga ke tangan petani pada Kamis, 21 Mei 2026.
Langkah ini diambil guna mempercepat respons terhadap kebutuhan pupuk di lapangan sekaligus menjaga produktivitas pertanian serta ketahanan pangan nasional, sebagaimana dilansir dari Medcom.
Sistem terintegrasi ini mengawasi jalannya produksi, pemantauan stok, hingga pengawasan penyaluran barang secara menyeluruh.
"Distribusi pupuk adalah bagian penting dalam menjaga produktivitas pertanian dan ketahanan pangan nasional. Melalui Command Center, Pupuk Indonesia membangun sistem distribusi yang terintegrasi, dari produksi, pemantauan stok, hingga pengawasan penyaluran, agar pupuk diterima petani lebih cepat dan tepat sasaran," kata Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia, Yehezkiel Adiperwira dalam keteranganya, Kamis, 21 Mei 2026.
Pusat kendali ini memanfaatkan fitur pelacakan kapal dan truk berbasis GPS untuk mendeteksi potensi hambatan di lapangan.
Selain itu, sistem Distribution Planning and Control System (DPCS) diterapkan sebagai peringatan dini kekurangan pasokan di berbagai wilayah lewat indikator warna.
Integrasi pemantauan digital ini sekaligus mendukung pelaksanaan Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025 mengenai penunjukan perusahaan sebagai penanggung jawab utama penyaluran sampai tingkat Penerima Pupuk pada Titik Serah (PPTS).
"Melalui transformasi digital ini, Pupuk Indonesia membangun rantai pasok pupuk yang lebih efisien, terintegrasi, dan responsif dengan menghubungkan proses distribusi dari hulu hingga hilir," kata Veronika Trisna Sukmawati, Senior Vice President (SVP) Distribusi Pupuk Indonesia.
Hingga 19 Mei 2026, volume stok pupuk nasional yang tercatat berada dalam kondisi aman dengan jumlah mencapai 1,17 juta ton dari beragam jenis.
"Ketika terdapat peningkatan kebutuhan di suatu wilayah, kami dapat segera melakukan penyesuaian pasokan pupuk agar distribusi tetap berjalan lancar dan kebutuhan petani selalu terpenuhi," ujar Veronika.
Pada rantai pasok paling hilir, aplikasi iPubers digunakan untuk melayani penebusan pupuk bersubsidi oleh petani yang berhak hanya dengan membawa KTP.
Sistem iPubers terhubung langsung dengan pusat kendali dan mencatat sekitar 2,5 juta transaksi penebusan setiap bulannya secara akuntabel.
Data yang terekam meliputi identitas pembeli, volume pupuk, waktu, serta lokasi transaksi demi mencegah adanya anomali atau penyelewengan.
"Aplikasi iPubers bukan sekadar tools penebusan, tetapi instrumen penting bagi Pupuk Indonesia untuk menjaga ekosistem distribusi pupuk subsidi secara end-to-end agar lebih transparan dan tepat sasaran," kata Yetty Endarwati, Senior Vice President (SVP) Digitalisasi & Data Science Pupuk Indonesia.
Di samping pengawasan digital, korporasi tetap menjalankan pemantauan fisik secara langsung di lapangan.
Langkah pengawasan langsung tersebut dikerjakan lewat kemitraan bersama Komisi Pengawas Pupuk dan Pestisida (KP3), aparat penegak hukum, serta pemerintah daerah.
"Pengawasan distribusi tidak hanya dilakukan melalui sistem digital, tetapi juga diperkuat melalui koordinasi dan monitoring langsung di lapangan agar penyaluran pupuk subsidi tetap berjalan tertib, tepat sasaran, dan sesuai ketentuan," kata Anggy Fajar Maghfiroh, VP Perencanaan Penjualan & Penagihan PSO.
Kombinasi pengawasan digital dan fisik ini berdampak pada kelancaran penyaluran barang di masyarakat.
Realisasi penebusan pupuk subsidi tercatat menyentuh angka 3,7 juta ton per 19 Mei 2026, yang menunjukkan kenaikan sekitar 34% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.