Upaya pengiriman gas alam cair atau LNG kembali dilakukan Qatar melalui jalur strategis Selat Hormuz pada Sabtu (9/5/2026) di tengah eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Langkah ini menandai percobaan ekspor LNG pertama Qatar sejak pecahnya perang di kawasan tersebut pada akhir Februari 2026.
Kapal tanker Al Kharaitiyat dilaporkan sedang berada di perairan antara Oman dan Iran setelah menyelesaikan pemuatan muatan dari fasilitas Ras Laffan. Berdasarkan data pelacakan kapal yang dilansir dari Money, pengiriman energi tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar di Pakistan.
Pihak berwenang Teheran dilaporkan mengizinkan kapal tersebut melintasi jalur utara yang berdekatan dengan Pulau Qeshm dan Larak. Sebelumnya, sejumlah upaya pengiriman serupa oleh Qatar selalu gagal dan terpaksa berbalik arah karena risiko keamanan yang sangat tinggi di Teluk Persia.
Kekosongan pasokan dari Qatar berdampak signifikan pada pasar energi dunia mengingat negara tersebut memegang kendali atas hampir seperlima pasokan LNG global tahun lalu. Berhentinya arus distribusi ini telah memicu lonjakan harga serta krisis energi di berbagai negara berkembang di kawasan Asia.
Situasi di Selat Hormuz saat ini masih diwarnai blokade de facto oleh militer Iran dan Amerika Serikat yang membahayakan kapal-kapal pengangkut energi. Meskipun dua kapal milik Abu Dhabi National Oil Co. sempat berhasil melintas, frekuensi lalu lintas energi masih berada jauh di bawah level normal.
Ketegangan militer semakin memanas setelah Washington meluncurkan serangan ke target-target Iran sebagai respons atas serangan terhadap tiga kapal perang Angkatan Laut Amerika Serikat. Ancaman tindakan lebih lanjut juga telah disampaikan oleh kepemimpinan tinggi di Gedung Putih.
"Washington akan merespons lebih keras apabila Iran tidak menerima proposal perdamaian yang diajukan AS," ujar Donald Trump, Presiden AS.
Hingga saat ini, perusahaan pelayaran Nakilat maupun QatarEnergy belum memberikan pernyataan resmi mengenai status perjalanan kapal Al Kharaitiyat. Ketidakpastian di jalur pelayaran ini terus memicu volatilitas harga energi global yang mengancam stabilitas ekonomi dunia.