PT Sarana Menara Nusantara Tbk Pacu Efisiensi Lewat Restrukturisasi Anak Usaha

PT Sarana Menara Nusantara Tbk Pacu Efisiensi Lewat Restrukturisasi Anak Usaha

PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) melakukan langkah restrukturisasi terhadap anak usahanya, PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) dan PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST), guna memacu efisiensi biaya serta memperkuat operasional perusahaan pada 2026.

Langkah strategis tersebut dilansir dari Investasi, di mana SUPR telah mengantongi persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 20 Mei 2026, sedangkan IBST dijadwalkan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 5 Juni 2026.

Integrasi bisnis di dalam grup ini dinilai akan menyederhanakan pengelolaan aset menara dan jaringan serat optik tanpa terhambat birokrasi pemegang saham minoritas.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menjelaskan bahwa konsolidasi ini berdampak positif bagi fleksibilitas perseroan dalam menata portofolio usahanya.

"Tujuannya dalam rangka efisiensi dan fleksibilitas operasional. Dampaknya terhadap bisnis TOWR meliputi cost efficiency dan optimalisasi sinergi dari IBST dan SUPR," ujar Nafan kepada Kontan, Rabu (28/5/2026).

Menurut analisisnya, pertumbuhan layanan fibre-to-the-tower (FTTT) dan fibre-to-the-home (FTTH) akan menjadi pendorong utama kinerja emiten berkode saham TOWR tersebut sepanjang tahun ini.

Perluasan jutaan sambungan rumah baru juga berpeluang besar memperkuat posisi perseroan di tengah tren konsolidasi industri telekomunikasi pasca-merger operator.

"FTTT dan FTTH lagi tumbuh. Itu bisa menjadi mesin pertumbuhan baru bagi TOWR. Dan ekspansi kan jutaan home passes kan. Nah itu menjadi mesin pertumbuhan baru bagi tower," katanya.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian, pendapatan perseroan melonjak menjadi Rp 13,32 triliun pada 2025 dari Rp 12,73 triliun pada tahun sebelumnya.

Pertumbuhan pendapatan tersebut mengerek laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 10,27 persen menjadi Rp 3,67 triliun pada 2025.

Meskipun EBITDA diproyeksikan tumbuh stabil sekitar 5 persen secara tahunan, emiten infrastruktur telekomunikasi ini tetap menghadapi sejumlah risiko makro.

Nafan menyoroti beban utang konsolidasi perusahaan yang diprediksi mencapai Rp 45 triliun dengan skema suku bunga mengambang yang rentan terhadap kenaikan BI Rate menjadi 5,25 persen.

Selain itu, fluktuasi nilai tukar rupiah berpotensi meningkatkan biaya lindung nilai yang dapat menekan tingkat profitabilitas, sehingga ia menyarankan investor untuk bersikap wait and see terhadap saham TOWR.

Artikel terkait

Rekomendasi