Warga Urban Indonesia Lebih Sering Cari Gejala Fisik di Internet

Warga Urban Indonesia Lebih Sering Cari Gejala Fisik di Internet

Penelitian terbaru dari Health Collaborative Center (HCC) mengungkapkan bahwa masyarakat perkotaan di Indonesia lebih dominan mencari informasi mengenai keluhan fisik dibandingkan kesehatan mental melalui mesin pencari dan kecerdasan buatan, berdasarkan hasil diskusi di Jakarta pada Rabu (13/5/2026).

Studi ini melibatkan 448 responden usia produktif di bawah 39 tahun yang tersebar di 12 kota besar, dengan mayoritas berdomisili di wilayah Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta, sebagaimana dilansir dari Lifestyle.

"Surprisingly teman-teman, dari studi kami menunjukkan bahwa keluhan pernapasan dan kardiovaskular, itu adalah keluhan paling sering," kata Ketua Peneliti dan Pendiri HCC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH.

Data penelitian menunjukkan profil partisipan didominasi oleh kalangan berpendidikan tinggi dan mapan secara ekonomi, dengan 61 persen responden memiliki penghasilan di atas UMR.

"Jadi, kita ternyata khawatir bahwa selama ini kita takutnya mental health screening itu jadi dominan di swadiagnostik. Ternyata enggak tuh. Justru penyakit klinis yang organik, yang bikin anak muda kita nyari ChatGPT," ujar Ray.

Berdasarkan temuan tersebut, pencarian terkait kondisi psikologis hanya menempati porsi kecil jika dibandingkan dengan masalah jasmani yang ditemukan dalam algoritma mesin pencari.

"Dan ternyata psikologis itu hanya 16 persen. Anak muda kita 'ngomong' dan cari tau sakitnya di gadget itu bukan masalah mental health," sambung dia.

Keluhan sistem pernapasan dan kardiovaskular mencatatkan persentase pencarian tertinggi masing-masing sebesar 46 persen dan 40 persen, di mana gejala harian seperti batuk menjadi pendorong utama penggunaan gawai.

"Ternyata gangguan di bagian pernapasan, sesak nafas, batuk, itu adalah keluhan utama yang bikin anak muda urban di Indonesia berkonsultasi dengan swadiagnostik tools mereka," ungkap Ray.

Sebanyak 99,5 persen responden mengakses internet setiap hari, dan hampir seperempat di antaranya menghabiskan waktu menatap layar lebih dari enam jam.

"Ini mungkin ada anomali, tapi ini akan jadi studi kami selanjutnya untuk ngecek dan untuk memvalidasi bener nggak dan kenapa ini," tutur Ray.

Pihak HCC juga mengamati adanya kemungkinan kaitan antara gejala fisik yang muncul dengan kondisi psikosomatis yang dialami pengguna.

"Karena, bisa jadi dua ini (sesak napas dan batuk) adalah bagian dari mental health. Orang refluks kan, orang regurgitasi kan juga kebanyakan karena mental health, karena psikosomatis," lanjut dia.

Selain masalah pernapasan, gangguan pencernaan akibat gaya hidup sibuk menjadi kata kunci dominan kedua yang ditanyakan kepada teknologi kecerdasan buatan.

"Kalau hanya gejala bertahap tetapi dia salah menaruh prompt di ChatGPT, akan terdiagnosis sebagai muntah. Itu sudah selesai, langsung over diagnosis," ujar Ray.

Kesalahan identifikasi gejala oleh algoritma, seperti antara refluks dan muntah, dikhawatirkan dapat memicu pengobatan yang tidak tepat tanpa adanya pemeriksaan fisik langsung oleh tenaga medis.

"Bayangkan kalau itu hanya refluks tapi dianggap infeksi usus karena hasil swadiagnosis yang salah," ucap Ray.

Artikel terkait

Rekomendasi