Riset DayTrader Temukan 70 Persen Konten Investasi TikTok Menyesatkan

Riset DayTrader Temukan 70 Persen Konten Investasi TikTok Menyesatkan

Sebuah riset dari DayTrader.com menemukan bahwa sebanyak 70 persen konten mengenai tips investasi di media sosial TikTok bersifat menyesatkan bagi investor individu. Temuan ini diperoleh setelah lembaga tersebut melakukan analisis mendalam terhadap video finansial yang beredar selama periode September.

Hasil penelitian yang dilansir dari Personalfinance menunjukkan mayoritas konten video yang beredar mendapatkan penilaian di bawah standar kelayakan. Penilaian ini didasarkan pada tiga kriteria utama, yakni jumlah penayangan yang tinggi, adanya klaim finansial yang jelas, serta pembahasan tema investasi.

Selain masalah akurasi data, riset tersebut menyoroti pengabaian risiko investasi oleh para pembuat konten. Sebanyak 30 persen video mendapatkan nilai terburuk karena tidak menyertakan disclaimer risiko, sementara hanya 10 persen video yang dinilai sangat baik dalam poin ini.

Fenomena penyederhanaan masalah keuangan yang rumit juga ditemukan pada 60 persen video yang diteliti. Dalam aspek akurasi, hanya 20 persen video yang mendapatkan nilai terbaik, sedangkan konten yang dianggap memiliki nilai edukasi sejati hanya menyentuh angka 20 persen.

Editor riset DayTrader.com, James Barra, memaparkan metode penentuan sampel video yang dianalisis dalam studi ini.

"Tujuannya adalah mendapatkan daftar final selama September 10 TikTok yang menyediakan kombinasi realistis apa yang dilihat oleh investor ritel dan melakukan analisis detail," kata James Barra, editor riset tersebut dari DayTrader.com, kepada Business Insider, Senin (29/9).

Pihak peneliti juga mengkritik motivasi di balik pembuatan konten-konten finansial yang populer di platform video pendek tersebut.

"Tapi kalau mereka harus memakai saran yang mereka berikan, apa mereka akan melakukannya juga?" tanya Paul Holmes, penulis riset.

Menurut catatan tim peneliti, materi video yang diproduksi oleh para pembuat konten tersebut cenderung berfokus pada instrumen investasi yang bersifat spekulatif. Topik yang sering diangkat mencakup saham perusahaan teknologi terkemuka, saham meme, mata uang kripto, token meme, hingga aset digital yang kurang populer di pasar.

Artikel terkait

Rekomendasi