Konsumsi minuman bersoda dan soft drink yang menjadi pilihan praktis saat beraktivitas padat ternyata menyimpan ancaman bagi kesehatan mental. Sebuah penelitian terbaru menemukan adanya potensi dampak serius, khususnya bagi kaum perempuan.
Dilansir dari Lifestyle, studi yang dipublikasikan dalam JAMA Psychiatry pada 2024 menunjukkan bahwa perempuan yang rutin meminum soda memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan suasana hati. Temuan ini memperluas deretan dampak buruk soda selain obesitas dan diabetes.
Penelitian ini melibatkan 932 orang dewasa, yang terdiri atas 405 peserta dengan diagnosis gangguan depresi mayor serta 527 individu sehat sebagai pembanding. Hasil analisis data mengungkap peningkatan risiko depresi sebesar 17 persen pada perempuan pengguna rutin minuman manis ini.
Dr Sharmili Edwin Thanarajah selaku peneliti utama menjelaskan bahwa hubungan antara gejala depresi dan konsumsi soft drink muncul melalui pengaruhnya terhadap mikrobioma usus. Perubahan pada keseimbangan bakteri di usus dinilai menjadi pemicu utamanya.
"Data kami menunjukkan bahwa hubungan antara soft drink dan gejala depresi muncul melalui pengaruhnya terhadap mikrobioma," jelasnya, seperti disadur Only My Health, Sabtu (9/5/2026).
Kandungan gula tinggi serta pemanis buatan dalam minuman bersoda dapat mengganggu bakteri baik di usus. Hal ini memicu gangguan pada sumbu usus-otak (gut-brain axis) yang merupakan jalur komunikasi antara sistem pencernaan dan pusat saraf.
Keseimbangan mikrobioma yang terganggu membuat tubuh lebih rentan terhadap peradangan kronis. Kondisi inflamasi inilah yang diyakini para ilmuwan dapat memengaruhi fungsi otak secara langsung dan memicu perubahan kondisi emosional seseorang.
Sensitivitas Hormonal pada Perempuan
Penelitian tersebut menyoroti adanya peningkatan bakteri Eggerthella pada perempuan yang sering meminum soda. Jenis bakteri ini sebelumnya memang telah dikaitkan dengan kemunculan gangguan depresi pada manusia.
Menariknya, efek negatif ini tampak jauh lebih signifikan pada perempuan dibandingkan laki-laki. Dr Guillaume Meric dari University of Bath menduga bahwa faktor hormonal dan respons sistem imun yang spesifik pada jenis kelamin tertentu menjadi penyebabnya.
"Efek ini hanya signifikan pada peserta perempuan dan mungkin disebabkan oleh perbedaan hormonal atau respons imun yang berkaitan dengan jenis kelamin," ujar dia.
Hormon estrogen diketahui memiliki peran dalam cara tubuh merespons peradangan serta perubahan mikrobioma. Hal ini membuat perempuan menjadi lebih sensitif terhadap dampak biologis yang dihasilkan dari konsumsi gula berlebih dalam jangka panjang.
Sifat Penelitian dan Langkah Bijak
Meskipun hasil temuan ini cukup kuat, para peneliti menegaskan bahwa studi tersebut bersifat observasional. Artinya, penelitian ini baru menemukan adanya keterkaitan kuat dan belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung.
Ada kemungkinan bahwa perempuan yang sedang mengalami stres atau tekanan psikososial lebih cenderung memilih minuman manis sebagai bentuk pelarian emosional. Meski demikian, para ahli tetap menyarankan pengurangan konsumsi soft drink sebagai langkah preventif.
Mengurangi asupan soda dipandang sebagai investasi penting bagi kesehatan fisik maupun mental. Perubahan pola konsumsi harian ini dapat membantu menjaga stabilitas emosional serta melindungi tubuh dari risiko peradangan kronis di masa depan.