Kemenkes Ingatkan Risiko Fatal Penularan Hantavirus dari Rodensia

Kemenkes Ingatkan Risiko Fatal Penularan Hantavirus dari Rodensia

Kementerian Kesehatan memperingatkan ancaman laten hantavirus di Indonesia yang memiliki tingkat fatalitas kasus mencapai 50 persen melalui penularan dari tikus ke manusia. Berdasarkan data terbaru pada Jumat (8/5/2026), virus ini telah terdeteksi di berbagai kota besar melalui partikel udara yang terkontaminasi kotoran rodensia.

Hasil penelitian komprehensif menunjukkan angka seroprevalensi hantavirus pada manusia di Indonesia berada di kisaran 11,6 persen. Hal ini menandakan setidaknya satu dari sepuluh orang pernah terpapar virus tersebut, meskipun sering kali tidak terdiagnosis karena gejalanya menyerupai penyakit demam lainnya.

Data populasi tikus sebagai reservoir utama menunjukkan tingkat infeksi yang signifikan, yakni antara 0 hingga 34 persen. Kepadatan rodensia yang tinggi di lingkungan pemukiman menjadi faktor utama sirkulasi aktif virus yang masuk dalam kategori zoonosis emerging ini.

Penularan hantavirus tidak memerlukan kontak langsung atau gigitan tikus, melainkan melalui debu yang mengandung partikel urin, feses, atau saliva tikus yang terhirup manusia. Di Indonesia, jenis yang paling dominan ditemukan adalah Seoul virus (SEOV) yang dibawa oleh tikus rumah jenis Rattus rattus dan Rattus norvegicus.

Kementerian Kesehatan mengidentifikasi dua manifestasi klinis utama dari infeksi ini, yaitu Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru. Risiko penularan di kawasan perkotaan seperti Jakarta, Bandung, Semarang, dan Denpasar dinilai lebih tinggi akibat sanitasi yang buruk.

Pemerintah mendorong penguatan surveilans sindromik terhadap kasus demam akut yang tidak terdiagnosis untuk membedakannya dari dengue atau leptospirosis. Integrasi program kesehatan lingkungan dan pengendalian populasi tikus berbasis komunitas menjadi strategi utama dalam menekan risiko penyebaran hantavirus di masa depan.

Artikel terkait

Rekomendasi