Psikolog Ingatkan Risiko Gangguan Mental di Balik Tren Bed Rotting TikTok

Psikolog Ingatkan Risiko Gangguan Mental di Balik Tren Bed Rotting TikTok

Istilah bed rotting atau membusuk di tempat tidur kini tengah menjadi fenomena yang viral di media sosial TikTok. Meski terdengar ekstrem, banyak anggota Generasi Z yang mengadopsi aktivitas ini sebagai metode untuk melawan kelelahan mental akibat rutinitas yang padat.

Dilansir dari Detik Health, bed rotting merujuk pada kebiasaan menghabiskan waktu sangat lama di atas kasur tanpa tujuan untuk tidur. Pelakunya biasanya melakukan aktivitas pasif, seperti mengonsumsi camilan, menonton film, hingga melakukan scrolling media sosial dalam durasi panjang.

Psikolog klinis dari Ohio State University Wexner Medical Center, Nicole Hollingshead, PhD, menilai fenomena ini muncul karena tekanan masyarakat yang mendewakan produktivitas. Baginya, bed rotting memberikan ruang bagi seseorang untuk berdiam diri tanpa harus merasa bersalah atas ketidakhadirannya dalam aktivitas sosial atau pekerjaan.

"Masyarakat kita cenderung memberikan penekanan yang terlalu besar dan mendewakan sikap untuk selalu sibuk atau produktif setiap saat," ujar Hollingshead kepada Health.

Senada dengan hal itu, Courtney DeAngelis yang merupakan psikolog dari NewYork-Presbyterian menyebutkan bahwa dalam porsi yang terbatas, rebahan lama memang bisa menenangkan tubuh. Aktivitas ini diklaim mampu membantu proses pemulihan dari rasa stres serta kelelahan fisik yang sangat berat.

Dominasi tren ini di kalangan anak muda diperkuat oleh data survei tahun 2024 dari American Academy of Sleep Medicine (AASM). Tercatat sekitar 37 persen warga Amerika telah mencoba tren tidur viral, dengan persentase mencapai 55 persen pada kelompok Gen Z.

Studi tersebut mengungkapkan bahwa 24 persen Gen Z secara terang-terangan mempraktikkan kebiasaan membusuk di tempat tidur ini. Tren ini mengubah fungsi tempat tidur, di mana lebih dari separuh individu kini menghabiskan minimal 30 menit di atas kasur sebelum mulai tertidur atau setelah terbangun di pagi hari.

Kendati menawarkan kenyamanan sementara, para ahli kesehatan mengingatkan adanya bahaya yang mengintai jika kebiasaan ini dilakukan secara berlebihan. Profesor psikiatri klinis dari Columbia University, Dr. Ryan Sultan, menegaskan bahwa perilaku yang berlangsung lebih dari dua hari perlu diwaspadai.

"Jika bed rotting menjadi perilaku yang biasa atau habituasi, hal itu berpotensi menjadi tanda depresi atau masalah kesehatan mental lainnya," tegas Dr Sultan.

Aspek kualitas istirahat juga menjadi sorotan tajam bagi tim medis. Juru bicara AASM, Dr Anne Marie Morse, memperingatkan bahwa fungsi utama tempat tidur adalah untuk beristirahat secara total, bukan untuk terjaga dalam waktu lama.

Courtney DeAngelis menjelaskan bahwa otak manusia memiliki mekanisme asosiasi yang kuat terhadap tempat tidur untuk keintiman dan tidur. Penggunaan kasur untuk aktivitas terjaga dapat membingungkan memori otak dan memicu munculnya gangguan tidur yang serius seperti insomnia.

Selain masalah tidur, risiko isolasi sosial menjadi ancaman nyata yang bisa memperburuk kondisi psikologis seseorang. Hollingshead mencatat bahwa upaya yang awalnya diniatkan sebagai perawatan diri atau self-care justru berpotensi berubah menjadi lingkaran setan yang merusak.

"Bed rotting bisa dimulai sebagai upaya perawatan diri untuk beristirahat, tetapi kemudian berubah menjadi berkurangnya aktivitas yang menyenangkan, lebih banyak waktu di media sosial, lebih banyak masalah tidur, isolasi sosial, dan akhirnya berujung pada depresi yang lebih berat," tutur Hollingshead.

Artikel terkait

Rekomendasi