Kebijakan bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) setiap Jumat memicu tantangan kesehatan fisik dan mental yang signifikan. Fenomena ini muncul akibat lingkungan rumah yang sering kali tidak dirancang secara ergonomis untuk mendukung aktivitas profesional harian, sebagaimana dilansir dari Megapolitan pada Selasa (5/5/2026).
Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi RS Mitra Keluarga Bekasi Timur, Fani Syafani, menjelaskan bahwa rumah sebenarnya bisa menjadi lokasi kerja yang layak. Namun, hal tersebut memerlukan modifikasi khusus agar memenuhi standar Keselamatan Kesehatan Kerja (K3) untuk memitigasi potensi bahaya di lingkungan domestik.
"Lingkungan rumah dapat dimodifikasi menjadi tempat bekerja dengan sebaiknya dapat memenuhi aspek Keselamatan Kesehatan Kerja dengan menerapkan Hirarki K3 dan memahami potensi risiko atau bahaya di area atau lingkungan rumah," kata Fani saat dihubungi Kompas.com, Selasa (5/5/2026).
Fani memperingatkan bahwa kebiasaan bekerja di sofa atau tempat tidur dapat berdampak buruk pada sistem muskuloskeletal. Tanpa peregangan rutin dan posisi duduk yang benar, pekerja rentan mengalami penekanan pada otot serta tulang belakang yang dapat menurunkan produktivitas.
"Dalam jangka panjang dapat menyebabkan penekanan pada otot, tulang belakang dan syaraf," kata Fani.
Selain masalah fisik, gangguan fokus akibat kehadiran anggota keluarga di rumah menjadi sumber stres tambahan. Fani menilai ketidakmampuan mengantisipasi distraksi ini dalam jangka panjang akan mengakibatkan target pekerjaan sulit tercapai.
"Apabila tidak dapat diantisipasi, dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan stress, akibat kurang fokus saat mengerjakan tugas sehingga target pekerjaan tidak dapat tercapai," katanya.
Kelelahan berkepanjangan juga membayangi para pegawai yang tidak menjaga keseimbangan waktu istirahat. Kondisi fatigue ini dinilai dapat menggerus energi serta motivasi kerja secara keseluruhan.
"Fatigue atau kelelahan menyebabkan seseorang tidak memiliki energi dan motivasi menurun," katanya.
Anita Puspa, seorang ASN bidang perencanaan dan keuangan, mengakui sulitnya membagi fokus antara tanggung jawab kantor dan urusan rumah tangga. Ia sering kali harus bekerja secara terputus-putus untuk merespons kebutuhan anaknya yang masih balita.
"Jam 08.00 WIB saya mulai kerja, buka laptop, cek email dan grup kantor. Tapi enggak lama biasanya sudah mulai terdistraksi, entah anak minta ditemani atau hal lain," kata Anita saat dihubungi, Selasa.
Ritme kerja yang tidak beraturan membuat proses penyelesaian tugas menjadi lebih lama dari biasanya. Interupsi yang terjadi hampir sepanjang hari membuat suasana kerja di rumah terasa sangat berbeda dengan atmosfer kantor yang lebih terstruktur.
"Jadi kerja itu putus-putus, kadang sambil nemenin dia main. Siang agak berat karena anak lagi aktif-aktifnya," kata dia.
Anita menambahkan bahwa tidak ada waktu yang benar-benar steril dari gangguan selama jam kerja di rumah. Ia terpaksa membagi pekerjaan menjadi potongan-potongan kecil agar tetap bisa diselesaikan di sela-sela aktivitas anak.
"Hampir sepanjang hari sih, terutama di jam-jam aktif anak. Bisa dibilang tidak ada satu blok waktu yang benar-benar bebas gangguan," kata Anita.
Secara psikis, beban ganda ini dirasakan lebih menguras energi dibandingkan bekerja secara tatap muka di kantor. Meski secara fisik berada di rumah, tekanan untuk terus membagi fokus memberikan kelelahan mental tersendiri.
"Secara fisik mungkin WFO, tapi secara mental saya merasa WFH lebih melelahkan karena harus bagi fokus terus," kata dia.
Tantangan lain juga diungkapkan oleh Karunia Putri, ASN di Cileungsi, yang merasa rapat daring berturut-turut tanpa jeda justru menambah beban kerja. Masalah teknis seperti jaringan internet yang tidak stabil menjadi kendala utama yang sering memicu tekanan mental.
"WFH bisa lebih melelahkan secara mental, apalagi kalau koneksi tidak mendukung," ucap dia saat dihubungi, Selasa.
Minimnya fasilitas pendukung di rumah membuat Karunia harus mengandalkan perangkat pribadi sepenuhnya. Tanpa layanan WiFi, ia terpaksa menggunakan koneksi hotspot dari ponsel untuk menjalankan tugas harian dan mengikuti pertemuan virtual.
"Tapi buat saya yang paling mengganggu justru masalah teknis seperti koneksi," kata dia.
Ruang kerja yang terbatas juga menjadi kendala fisik bagi efektivitas kerja pegawai di rumah. Karunia memanfaatkan sudut kamar tidurnya dengan meja seadanya sebagai area kerja darurat.
"Saya kerja di kamar, pakai meja seadanya. Tapi untuk internet, saya full pakai hotspot dari HP. Tidak ada WiFi di rumah," kata dia.
Sebagai langkah mitigasi, Fani menyarankan penerapan metode 20-20-20 untuk menjaga kesehatan mata dan rutin melakukan peregangan. Komunikasi yang jelas dengan anggota keluarga mengenai jam kerja juga sangat krusial agar profesionalisme tetap terjaga di lingkungan rumah.
"Batasi distraksi dengan anggota rumah tangga, komunikasikan dengan keluarga, waktu jam kerja yang tidak dapat diganggu," ujarnya.
Terakhir, Fani menekankan pentingnya menjaga kebugaran fisik melalui olahraga ringan di sela rutinitas WFH. Jika muncul gangguan kesehatan yang menetap, ia menyarankan agar pegawai segera melakukan konsultasi medis secara profesional.
"Memberikan waktu dalam berolahraga dan merawat diri dalam menjaga kesehatan tubuh baik secara fisik maupun psikis, apabila mengalami keluhan atau gangguan kesehatan selama bekerja dari rumah atau work from home, disarankan segera berkonsultasi ke Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi," kata Fani.