Risiko Kesehatan dan Lingkungan Kantong Kresek Pembungkus Daging Kurban

Risiko Kesehatan dan Lingkungan Kantong Kresek Pembungkus Daging Kurban

Praktik pembagian daging kurban menggunakan kantong plastik sekali pakai masih mendominasi setiap perayaan Idul Adha. Meski dianggap praktis, kebiasaan ini menyimpan ancaman serius bagi kesehatan manusia dan kelestarian ekosistem lingkungan.

Dilansir dari Cahaya, tingginya penggunaan plastik sekali pakai terjadi di tengah upaya peningkatan kesadaran pengurangan sampah. Masyarakat kini mulai didorong untuk beralih menggunakan wadah alternatif yang lebih aman dan dapat digunakan kembali.

Agung Nugroho, Ketua Program Studi Gizi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, menyatakan bahwa penggunaan kantong plastik tidak hanya merusak lingkungan. Menurutnya, ada potensi bahaya kesehatan yang mengintai masyarakat.

Agung merinci bahwa kantong kresek hitam atau plastik hasil daur ulang mengandung zat berbahaya. Risiko kesehatan ini muncul karena material pembuatnya sering kali berasal dari limbah produk pangan, bahan kimia, hingga pestisida.

"Kantong plastik mengandung zat karsinogen dan logam berat seperti timbal yang berisiko bagi kesehatan. Selain itu, plastik sekali pakai membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai di alam," kata Agung, Sabtu (9/5/2026).

Ia menegaskan bahwa pembungkusan bahan makanan, terutama daging kurban dengan kantong plastik, harus segera dikurangi. Hal ini bertujuan untuk melindungi kesehatan publik sekaligus menekan tingkat pencemaran lingkungan yang kian parah.

Lonjakan Volume Sampah Plastik Pasca kurban

Perayaan Idul Adha diperkirakan menyumbang ratusan ton sampah plastik baru akibat penggunaan kantong sekali pakai. Data Kementerian Pertanian mencatat jumlah hewan kurban pada 2024 mencapai angka 1,97 juta ekor.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memperkirakan timbulan sampah plastik saat Idul Adha 2024 mencapai 608 ton. Angka ini berasal dari penggunaan sekitar 121,5 juta lembar kantong kresek di seluruh Indonesia.

"Momentum Idul Adha seharusnya juga menjadi sarana edukasi untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Kalau separuh umat Islam saja mulai mengurangi penggunaan kantong plastik, dampaknya akan sangat besar bagi keselamatan lingkungan," ujarnya.

Perspektif Islam dalam Menjaga Kelestarian Alam

Kesadaran terhadap lingkungan dinilai selaras dengan nilai-nilai dasar dalam ajaran Islam. Agung menjelaskan bahwa manusia memiliki tanggung jawab sebagai khalifah di bumi yang bertugas menjaga alam dari kerusakan.

Pesan ini merujuk pada QS Ar-Rum ayat 41 yang membahas kerusakan darat dan laut akibat perilaku manusia. Selain itu, QS Al-Qasas ayat 77 memerintahkan manusia untuk senantiasa berbuat baik dan menjauhi perilaku destruktif di muka bumi.

"Umat Islam harus menjadi aktor utama dalam gerakan penyelamatan lingkungan. Menjaga lingkungan bukan hanya isu sosial, tetapi juga bagian dari amanah agama," tegasnya.

Solusi Wadah Ramah Lingkungan

Pemerintah bersama KLHK kini menggencarkan kampanye penggunaan wadah reusable atau dapat dipakai ulang untuk distribusi daging. Langkah ini dianggap lebih efektif dalam menekan jumlah sampah harian saat perayaan besar.

Salah satu praktik baik dilakukan oleh Masjid Quwatul Islam Perumnas Condongcatur. Sejak 2004, masjid tersebut telah menggunakan kontainer food grade dan wadah reusable untuk membagikan daging kepada warga sekitar.

Setiap wadah diberi label nama agar warga dapat menggunakannya kembali di tahun-tahun berikutnya. Inisiatif ini terbukti mampu meminimalkan tumpukan sampah plastik maupun limbah organik di area distribusi.

"Hasilnya luar biasa. Tidak ada lagi sampah plastik maupun sampah organik pembungkus daging kurban yang menumpuk di tempat sampah," kata Agung.

Artikel terkait

Rekomendasi