Dokter Ungkap Risiko Komplikasi Kehamilan Usia di Atas 35 Tahun

Dokter Ungkap Risiko Komplikasi Kehamilan Usia di Atas 35 Tahun

Mayoritas perempuan yang mengandung pada usia di atas 35 tahun atau Advanced Maternal Age (AMA) mampu menjalani masa kehamilan dan melahirkan bayi yang sehat. Namun, kelompok usia ini memiliki potensi mengalami kendala kesuburan serta kerentanan yang lebih tinggi terhadap komplikasi medis tertentu.

Dilansir dari Medcom, kondisi kehamilan normal memang mendominasi pada kelompok AMA, tetapi kewaspadaan tetap diperlukan karena adanya faktor risiko intrinsik.

“Meskipun sebagian besar ibu hamil dengan AMA memiliki kehamilan normal, banyak di antaranya berisiko tinggi,” kata Layan Alrahmani, M.D., seorang dokter kandungan dan kebidanan bersertifikat, spesialis kedokteran maternal-fetal, dan anggota Dewan Penasihat Medis BabyCenter.

“Diagnosis AMA membantu mengidentifikasi siapa yang berisiko tinggi, dan untuk membantu mengelola kehamilan secara individual,” tambahnya.

Pemeriksaan pencitraan seperti ultrasonografi (USG) dini umumnya diterapkan pada pasien AMA untuk mendeteksi potensi kehamilan kembar atau anomaly struktural. Mendekati hari perkiraan lahir, pemantauan USG kembali dilakukan guna mengukur kesesuaian bobot janin, baik indikasi ukuran terlalu kecil maupun terlalu besar.

Terdapat beberapa konsekuensi medis yang berpeluang muncul pada kehamilan di usia matang. Janin memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap gangguan pembelahan sel.

  • Melahirkan anak dengan masalah kromosom seperti sindrom Down (trisomi 21), sindrom Patau (trisomi 12), dan sindrom Edwards (trisomi 18).
  • Memiliki bayi dengan berat badan lahir rendah atau makrosomia (berat badan lahir tinggi).

Meskipun kecemasan sering muncul akibat data tersebut, peningkatan risiko tidak terjadi secara drastis tepat ketika seseorang menginjak usia 35 tahun. Parameter usia ini bersifat dinamis dalam dunia medis.

Berdasarkan pernyataan American Academy of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), batasan tersebut merupakan ambang batas yang arbitrer, dan beberapa risiko baru muncul pada usia yang lebih tua, seperti 40 tahun ke atas.

Pengaruh Kondisi Medis Penyerta

Penurunan performa fisik dan akumulasi masalah kesehatan seiring bertambahnya usia menjadi pemicu utama hambatan reproduksi. Penyakit degeneratif maupun gangguan sistem reproduksi dapat mengganggu proses pembuahan hingga proses persalinan.

Kondisi-kondisi ini, seperti endometriosis, fibroid, tekanan darah tinggi, obesitas, dan diabetes yang cenderung memiliki dampak yang lebih besar seiring bertambahnya usia. Namun, jika seseorang sehat sejak awal, risiko keseluruhan kemungkinan lebih rendah.

Langkah mitigasi dapat ditempuh melalui pengawasan prenatal secara komprehensif, termasuk pemanfaatan uji diagnostik seperti amniosentesis atau analisis sampel darah untuk deteksi dini variasi kromosom. Keterlibatan aktif tim medis, termasuk dokter spesialis kandungan hingga ahli genetika, memegang peranan krusial untuk menekan potensi fatalitas.

Artikel terkait

Rekomendasi