Ahli Gizi Ingatkan Risiko Konsumsi Ikan di Perairan Tercemar Jakarta

Ahli Gizi Ingatkan Risiko Konsumsi Ikan di Perairan Tercemar Jakarta

Nutrisionis Rita Ramayulis memperingatkan masyarakat mengenai risiko kesehatan akibat mengonsumsi ikan dari perairan tercemar di wilayah Jakarta pada Senin (4/5/2026). Ukuran serta jenis ikan menjadi indikator utama yang memengaruhi tingkat akumulasi racun dalam tubuh biota laut tersebut.

Pemilihan jenis ikan yang tepat sangat krusial karena beberapa spesies memiliki kemampuan menahan zat berbahaya yang lebih tinggi dibandingkan jenis lainnya. Dilansir dari Detik Health, ikan tertentu bahkan mampu menampung racun tanpa langsung mati, sehingga berbahaya bagi konsumen.

"Betul, agak beresiko tinggi ya. Cuma bedanya kan gini, kalau ikan sapu-sapu dia bisa menahan semua racun itu ke badannya," ucap Rita Ramayulis, Nutrisionis.

Rita menambahkan bahwa sebagian besar ikan sebenarnya memiliki mekanisme penyaringan alami. Namun, kondisi akan berbeda jika tingkat polutan di air sudah melampaui batas kemampuan saring organisme tersebut.

"Kalau ikan lain akan tersaring dengan sendirinya. Kalau dia sudah banyak racunnya dianya (ikan) yang mati," sambung Rita Ramayulis.

Faktor rantai makanan menjadi alasan mengapa ikan berukuran besar cenderung menyimpan lebih banyak polutan. Rita menyarankan masyarakat yang tetap ingin mengonsumsi hasil tangkapan dari perairan Jakarta untuk lebih selektif dalam memilih ukuran.

"Kalau kita berada pada perairan Jakarta yang sudah sangat tercemar, kalaupun ingin mengkonsumsi ikannya, maka mengambil ikan yang ukurannya kecil," tutur Rita Ramayulis.

Ikan laut berukuran kecil seperti kembung dan teri dinilai lebih aman dibandingkan predator besar. Di sisi lain, ikan air tawar seperti lele dan mujair dianggap memiliki risiko pencemaran yang lebih rendah karena metode budidayanya yang biasanya lebih terkontrol.

"Jadi misalnya kayak lele, mujair, itu ikan air tawar. Nah kalau ikan air tawar tidak terlalu tercemar dibandingkan yang laut," tutur Rita Ramayulis.

Perbedaan tingkat risiko ini disebabkan oleh pola pembuangan limbah masyarakat dan industri yang sebagian besar berakhir di muara laut. Hal tersebut membuat akumulasi logam berat di laut menjadi jauh lebih pekat dibandingkan di kolam budidaya air tawar.

"Kalau yang laut memang cemarannya sudah tinggi. Karena mungkin kalau air tawar itu sudah banyak kolam ternaknya. Jadi, mungkin kita bisa lebih selektif," tutur Rita Ramayulis.

Rita juga menyoroti sistem perairan yang membawa residu toksik ke wilayah pesisir. Penegasan ini didasari oleh pola aliran sungai yang membawa berbagai limbah menuju laut lepas.

"Dan pembuangan zat-zat toksik atau logam berat ke laut alirannya, bukan ke sungai kan," tambah Rita Ramayulis.

Kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak mendapatkan perhatian khusus dalam imbauan ini. Orang dewasa disebut memiliki sistem pertahanan tubuh yang lebih tangguh dibandingkan kelompok usia dini atau ibu yang sedang mengandung.

"Imbauan kita tuh sekarang adalah kalau buat orang-orang yang berisiko, misalnya anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui itu nggak dibolehkan (makan ikan yang berukuran besar). Tapi kalau untuk orang dewasa, masih dibolehkan karena masih punya sistem pertahanan yang lebih kuat, sehingga risiko masalah kesehatannya lebih rendah begitu," jelas Rita Ramayulis.

Mengenai komoditas laut lainnya, Rita memberikan klasifikasi keamanan berdasarkan anatomi penyaringan hewan tersebut. Ia menyebut udang masih dalam kategori relatif aman, namun memberikan peringatan keras terhadap konsumsi kerang dari laut yang tercemar.

"Kalau udang termasuk yang kecil, kalau ukurannya kecil masih relatif aman dia. Kalau kerang jangan coba-coba deh. Karena dia nggak punya alat saringan, jadi semua yang lewat ke dia ya masuk ke dagingnya," tegas Rita Ramayulis.

Hal ini disebabkan oleh sifat biologis kerang yang menyerap nutrisi sekaligus polutan secara langsung dari air sekitarnya. Tanpa adanya alat penyaring yang memadai, seluruh kandungan logam berat akan langsung mengendap pada jaringan daging kerang.

"Jadi kalau ada yang bilang ini langsung dari laut Jakarta, kerang yang aman itu mungkin hanya jenis tertentu saja," tutup Rita Ramayulis.

Artikel terkait

Rekomendasi