Tren pesohor yang tetap tampil menawan dengan riasan wajah saat proses persalinan memicu perdebatan di media sosial mengenai keamanan dandan waktu melahirkan. Dilansir dari Suara, fenomena ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat terkait dampaknya bagi kesehatan ibu maupun sang bayi.
Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, dr. Yusfa Rasyid Sp.OG, MARS memberikan tanggapan mengenai maraknya fenomena kosmetik di ruang bersalin ini. Menurut dr. Yusfa Rasyid, tindakan bersolek sebenarnya diperbolehkan dalam kondisi tertentu.
"Sebenarnya boleh enggak sih makeup saat persalinan, baik normal ataupun sesar?" jelas dr. Yusfa Rasyid dalam unggahan Instagram pada Februari 2026.
"Isu lama, sekarang bagi saya kalau operasi sesar berencana, boleh saja moms secantik mungkin ber-makeup. Demikian juga untuk kandungan/ginekologi risiko ringan," lanjutnya lagi.
Kendati demikian, penggunaan kosmetik saat momen melahirkan ini tidak dianjurkan secara medis jika menimbang potensi komplikasi. Prosedur darurat menjadi salah satu alasan utama di balik larangan pemakaian riasan wajah tersebut.
"Tapi bagaimana ya menurut dr. Bius? Jawabannya: secara medis tidak dianjurkan, terutama jika ada kemungkinan tindakan seperti C-section (partus gagal lanjut sc emergency)," tandas dr. Yusfa Rasyid lagi.
Penggunaan produk kecantikan seperti bedak, lipstik, riasan mata, hingga pewarna kuku menyimpan bahaya tersendiri yang dapat mempersulit pengawasan medis. Produk riasan bibir dan wajah dapat mengaburkan indikator klinis penting pada tubuh pasien.
Efek penutupan kulit oleh produk kosmetik ini dapat menghambat deteksi dini pasokan oksigen. Kondisi bibir atau kulit yang berubah menjadi pucat kebiruan merupakan tanda fatal adanya gangguan oksigenasi selama persalinan atau anestesi.