KOMPAS.com - Hingga saat ini, risiko penyebaran hantavirus ke penduduk Indonesia masih sangat rendah.
Namun demikian, Epidemiolog dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman mengatakan masyarakat perlu mewaspadai beberapa faktor yang mendukung penyebaran hantavirus di Indonesia.
Faktor yang dimaksud adalah hewan pengerat (rodensia) yang di Indonesia tergolong tinggi, banjir musiman, sanitasi perkotaan yang kotor, serta kepadatan pelabuhan dan pergudangan.
Kendati demikian, beberapa kelompok masyarakat memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap paparan hantavirus yang ditularkan hewan pengerat.
Kelompok tersebut yaitu, petugas kebersihan, tukang sampah, pekerja gudang dan pelabuhan, petani, orang-orang yang sering terpapar lingkungan tertutup dan kotor, serta masyarakat di daerah banjir.
Di sisi lain, mendeteksi kasus hantavirus di Indonesia masih menjadi tantangan. Hantavirus di Indonesia berpotensi underdiagnosed atau jarang terdiagnosis dan kerap tidak terindentifikasi, mengingat gejalanya mirip leptospirosis, dengue, atau pneumonia berat.
Ini diperparah dengan respons masyarakat Indonesia yang cenderung skeptis setiap muncul isu potensi wabah baru.
Menurut Dicky, ketidakpercayaan tersebut disebabkan trauma sosial pasca pandemi, infodemi di media sosial, inkonsistensi komunikasi risiko dari pemerintah, sampai politisasi kesehatan publik.
transparansi data, komunikasi ilmiah terbuka dan pengawasan independen karena trust (kepercayaan) publik dibangun dari keterbukaan ya bukan sekadar otoritas," ujar Dicky kepada Kompas.com, Jumat (8/5/2026).
Apa yang perlu dilakukan?
Kewaspadaan terhadap ancaman hantavirus harus tidak disertai dengan panik secara berlebihan. Dicky menggarisbawahi pentingnya untuk waspada dengan tetap berpikir rasional. Ia menyarankan masyarakat mengadopsi pola hidup bersih dan sehat di segala aspek. Itu termasuk menjaga kebersihan lingkungan.
Sebaiknya, kata dia, rumah terbebas dari tikus, selalu menyimpan makanan dalam keadaan tertutup, memakai masker atau sarung tangan saat membersihkan gudang dan area kotor lainnya.
"Kalau musim hujan atau banjir, jangan kontak langsung dengan air kotor dan gunakan alas kaki atau pelindung. Kalau ada demam, nyeri otot, sesak napas ya, terutama kalau lingkungannya sanitasi buruk ya harus ke dokter dan juga screening ya, jangan dalam melihat informasi di media sosial, lihat siapa yang berbicara, sumber-sumbernya," tutur Dicky.
Tikus liar
Hantavirus pertama kali ditemukan pada tikus sawah di dekat Sungai Hantan, Korea Selatan, pada 1970-an. Dalam sejarah wabah, hantanvirus pertama yang menghebohkan terjadi di wilayah Four Corners, Amerika Serikat (AS) pada 1993. Saat itu, strain virus Sin Nombre, jenis hantavirus, menyerang paru-paru dengan tingkat kematian hampir 50 persen.
"Nah, sekarang yang semakin diketahui bahwa reservoir utama dari hantavirus itu adalah hewan pengerat seperti tikus liar ini. Nah kalau di Indonesia juga ditemukan di tikus got atau tikus rumah ya, beberapa ya di lokasi, terutama yang sangat rawan kan di daerah pelabuhan," ucapnya.
Sebagai reservoir utama, hewan pengerat terutama tikus liar dapat menyebarkan hantavirus ke manusia, menyebabkan hantavirus pulmonary syndrome, penyakit zoonosis mematikan yang menyerang pernapasan.
Penularan hantavirus dari tikus liar ke manusia paling sering terjadi melalui aerosol, yang mana kotoran hewan pengerat itu sudah menjadi debu dan terbawa udara.
"Dari urin, feses atau air liur tikus ini yang sudah kering. Nah, kontak dengan permukaan yang terkontaminasi juga ditemukan, sehingga akhirnya terinfeksi atau lebih jarang lagi orang yang tergigit rodensia atau tikus ini," ujar Dicky.
Hantavirus berbahaya bagi manusia karena dapat merusak pembuluh darah dan gagal napas akut. Mulanya, pasien yang terinfeksi hantavirus akan mengalami demam, nyeri otot, lemas, dan mual.
Namun, dalam beberapa hari saja, gejala yang dialami pasien berkembang menjadi sesak napas berat, paru-paru terisi cairan, serta penurunan oksigen secara drastis hingga syok.
"Jadi, secara medis kondisi ini menyerupai yang disebut dengan ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome). Nah, fatalitasnya atau kematian pada kasus berat itu bisa mencapai 40 persen, terutama kalau diagnosisnya terlambat atau fasilitas ICU-nya terbatas. Jadi, yang mematikan bukan hanya virusnya, tetapi respon inflamasi berat dan kerusakan paru yang sangat cepat," ucapnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.