Rumah Sakit Lamina menerapkan teknologi Joimax asal Jerman untuk menangani kasus saraf kejepit atau Herniated Nucleus Pulposus (HNP) melalui metode minimal invasif pada Jumat (15/5/2026). Prosedur modern ini menjadi solusi alternatif bagi pasien yang khawatir terhadap risiko operasi besar konvensional, sebagaimana dilansir dari Detik Health.
Teknologi ini bekerja dengan sayatan sangat kecil yang bertujuan meminimalkan kerusakan jaringan di sekitar saraf. Penggunaan kamera khusus dalam sistem endoskopi memungkinkan tim dokter melihat titik saraf yang terjepit secara mendetail dan akurat.
Dokter Spesialis Bedah Saraf di Rumah Sakit Lamina, dr. Mahdian Nur Nasution, Sp.BS, memaparkan bahwa kondisi HNP dipicu oleh tekanan jaringan sekitar terhadap saraf. Tekanan tersebut bisa berasal dari otot, tulang, ligamen, maupun bantalan tulang belakang.
"Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri hebat di pinggang, bokong, leher, hingga menjalar ke tangan atau kaki. Pada beberapa kasus, penderita juga mengalami mati rasa dan kelemahan otot yang tentunya dapat mengganggu aktivitas sehari-hari," kata dr. Mahdian Nur Nasution, Dokter Spesialis Bedah Saraf.
Kemajuan peralatan medis saat ini memungkinkan penanganan gangguan tulang belakang dilakukan tanpa prosedur pembedahan terbuka yang luas. Pasien kini memiliki pilihan terapi yang menawarkan tingkat ketidaknyamanan yang jauh lebih rendah.
"Banyak pasien datang dengan ketakutan harus operasi besar. Padahal sekarang sudah ada teknologi modern dengan sayatan sangat kecil, minim nyeri, dan pemulihan lebih cepat, seperti Joimax," jelas dr. Mahdian Nur Nasution, Dokter Spesialis Bedah Saraf.
Penerapan metode penanganan dilakukan berdasarkan evaluasi mendalam terhadap kondisi fisik dan tingkat keparahan penyakit pasien. Sebelum tindakan, pemeriksaan menyeluruh sangat krusial untuk memastikan ketepatan terapi yang akan diberikan.
"Berbeda dengan operasi terbuka yang membutuhkan sayatan besar, Joimax memungkinkan tindakan dilakukan lebih presisi dengan trauma jaringan yang jauh lebih minimal. Bahkan pada beberapa kasus, pasien dapat berjalan beberapa jam setelah tindakan dilakukan," tutur dr. Mahdian Nur Nasution, Dokter Spesialis Bedah Saraf.
Selain intervensi medis invasif minimal, RS Lamina juga menyediakan opsi terapi konservatif meliputi fisioterapi dan rehabilitasi medis. Pasien disarankan untuk memperbaiki postur tubuh dan rutin melakukan peregangan guna menjaga kesehatan tulang belakang jangka panjang.
"Masih banyak masyarakat yang memilih pijat sembarangan atau membeli obat tanpa pemeriksaan medis ketika mengalami nyeri pinggang dan kesemutan. Padahal, penanganan yang tidak tepat justru dapat memperburuk kondisi saraf dan meningkatkan risiko komplikasi jangka panjang," tutur dr. Mahdian Nur Nasution, Dokter Spesialis Bedah Saraf.
Diagnosis yang akurat melalui fasilitas pendukung seperti MRI sangat diperlukan untuk menentukan langkah pengobatan yang sesuai. Intervensi dini menjadi kunci utama untuk menghindari penurunan fungsi saraf yang lebih berat.
"Jika mulai mengalami nyeri pinggang menjalar, leher kaku, kesemutan, atau mati rasa yang mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan menunggu hingga kondisi semakin parah. Penanganan lebih cepat dapat membantu mencegah komplikasi dan meningkatkan peluang pemulihan optimal," tutup dr. Mahdian Nur Nasution, Dokter Spesialis Bedah Saraf.