RS Malaysia Incar Pasien Indonesia untuk Penanganan Kasus Penyakit Kompleks

RS Malaysia Incar Pasien Indonesia untuk Penanganan Kasus Penyakit Kompleks

Rumah sakit di Malaysia semakin gencar menarik minat pasien asal Indonesia untuk layanan medis spesialis dan penyakit kompleks akibat tingginya permintaan domestik yang belum tertangani sepenuhnya. Fenomena ini terlihat dari komposisi pasien internasional di sejumlah pusat kesehatan terkemuka di negeri jiran tersebut.

Dilansir dari Ekonomi, sekitar 50 persen pasien luar negeri di Subang Jaya Medical Centre (SJMC) merupakan warga negara Indonesia. Hal ini dikonfirmasi oleh Regional Chief Executive Officer Asia OneHealthcare sekaligus CEO SJMC dan Ara Damansara Medical Centre (ADMC), Bryan Lin, pada Kamis (8/5/2026).

Dominasi pasien asal Indonesia mencakup berbagai penanganan medis tingkat tinggi. Bryan Lin menjelaskan bahwa kontribusi terbesar berasal dari layanan onkologi, kardiologi, bedah saraf, hingga prosedur transplantasi organ yang membutuhkan teknologi canggih.

"Pasien Indonesia sekarang menyumbang sekitar 50% dari total pasien internasional kami. Mereka datang terutama untuk kasus kompleks seperti kanker, jantung, otak, liver, gastrointestinal, hingga pediatric subspecialty," ujar Bryan Lin, CEO SJMC.

Data dari Malaysia Healthcare Travel Council menunjukkan sektor wisata medis tumbuh sekitar 21 persen pada periode 2023-2024. Pertumbuhan tersebut diprediksi tetap bertahan di angka dua digit pada tahun ini seiring pulihnya mobilitas pascapandemi.

Bryan Lin mengidentifikasi beberapa faktor utama yang menjadikan Indonesia sebagai pasar prioritas, termasuk kemiripan budaya dan efisiensi biaya. Layanan di Malaysia dinilai menawarkan proposisi nilai yang lebih kuat dibandingkan negara tetangga lainnya seperti Singapura.

"Kalau dibandingkan Singapura, value proposition Malaysia sangat menarik. Kami tidak mau bilang ‘berbiaya rendah’, tetapi lebih terjangkau dan sangat kompetitif secara value dengan kualitas layanan setara rumah sakit internasional," katanya Bryan Lin, CEO SJMC.

Untuk mempertahankan daya tarik, SJMC menggunakan teknologi medis terkini seperti next generation sequencing (NGS) untuk terapi kanker genetik dan bedah robotik. Mereka juga mencatat adanya pergeseran perilaku pasien Indonesia yang kini lebih kritis dan informatif dalam mencari pendapat medis kedua.

"Mereka sekarang smart shopper. Mereka datang untuk validasi diagnosis dan memastikan treatment plan yang paling tepat," ujarnya Bryan Lin, CEO SJMC.

Strategi Malaysia kini mulai bergeser ke arah integrasi layanan melalui kemitraan strategis. Hal ini mencakup kerja sama sistem pembayaran non-tunai dengan perusahaan asuransi di Indonesia serta kolaborasi pengetahuan dengan tenaga medis lokal.

"Kami tidak melihat Indonesia sebagai kompetitor. Kami ingin menjadi mitra komplementer. Kalau ada kebutuhan medis yang belum bisa ditangani lokal, kami bantu. Setelah itu pasien bisa kembali follow up dengan dokter di Indonesia," katanya Bryan Lin, CEO SJMC.

Pihak manajemen rumah sakit menegaskan bahwa mereka lebih memilih jalur kemitraan daripada melakukan ekspansi fisik. Saat ini belum ada rencana untuk mendirikan bangunan rumah sakit baru di wilayah Indonesia secara langsung.

"Fokus kami lebih kepada strategic partnership dibanding membangun rumah sakit sendiri di Indonesia," katanya Bryan Lin, CEO SJMC.

Di sisi lain, Pemerintah Indonesia merespons persaingan regional ini dengan mempercepat pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan Sanur di Bali. Proyek ini bertujuan untuk menekan angka masyarakat yang berobat ke luar negeri dengan menyediakan layanan high acuity di dalam negeri.

Artikel terkait

Rekomendasi