Kinerja saham Berkshire Hathaway kelas A dilaporkan mengalami penurunan sekitar 10 persen setelah Warren Buffett memutuskan mundur dari jabatan Chief Executive Officer. Penurunan performa perusahaan investasi tersebut terjadi sejak rencana pensiun diumumkan pada Mei 2025 hingga Sabtu, 16 Mei 2026.
Kondisi pasar tersebut berbanding terbalik dengan indeks S&P 500 yang justru mengalami penguatan hingga 32 persen dalam periode yang sama, sebagaimana dilansir dari Money melalui laporan Yahoo Finance. Keputusan Buffett melepaskan kepemimpinan dinilai masih memberikan dampak bagi pergerakan saham perusahaan.
Sebelumnya, Warren Buffett mengumumkan pengunduran dirinya dalam rapat tahunan Berkshire Hathaway di Omaha, Nebraska, Amerika Serikat, pada 3 Mei 2025. Pria yang kini berusia 95 tahun tersebut menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada pihak internal perusahaan, Greg Abel, per 1 Januari 2026.
Pengumuman pensiun yang disampaikan di akhir sesi tanya jawab selama lima jam tersebut sempat mengejutkan para pemegang saham. Buffett mengungkapkan bahwa rencana tersebut sebelumnya hanya diketahui oleh beberapa anggota dewan serta kedua anaknya, Howard dan Susie Buffett. Meskipun tidak lagi menjabat sebagai CEO, Buffett tetap memegang posisi sebagai chairman perusahaan.
Transisi kepemimpinan ini menandai era baru dalam rapat tahunan Berkshire Hathaway tahun ini, di mana Buffett tidak lagi menjadi pusat perhatian utama setelah enam dekade memimpin. Buffett memilih duduk di barisan depan penonton untuk memberikan dukungan penuh kepada Greg Abel yang memimpin acara dari atas panggung.
Rapat tahunan tersebut diwarnai dengan seremoni pensiun jersey nomor 60 sebagai bentuk penghormatan bagi Buffett serta penayangan video deepfake kecerdasan buatan (AI). Dalam video tersebut, sosok buatan Buffett tampak melontarkan pertanyaan kepada Abel mengenai alasan investor harus tetap mempertahankan saham perusahaan untuk jangka panjang.
Walaupun operasional Abel dinilai solid, sejumlah investor merasakan perubahan atmosfer pertemuan karena absennya Buffett dan mendiang Charlie Munger di panggung utama. Antusiasme peserta terlihat berkurang dengan adanya beberapa kursi kosong dan antrean pameran yang lebih pendek dari biasanya.
"Saya sedikit kecewa," kata investor asal Boston, Xiao Zhang.
Para investor mengaku merindukan interaksi khas dari duet pemimpin terdahulu yang kerap menyelipkan petuah bijak saat forum berlangsung.
"Pada tahun-tahun sebelumnya, Warren Buffett dan Charlie Munger duduk di panggung, berbagi pengalaman investasi mereka serta pengalaman hidup dan filosofi mereka. Tahun ini, saya tidak mendengar hal seperti itu," ujar Zhang.
Di sisi lain, sebagian investor tetap menaruh kepercayaan terhadap kapasitas Abel dalam memahami seluruh lini bisnis Berkshire Hathaway, mulai dari sektor asuransi, kereta api, energi, hingga ritel. Profesor akuntansi dan keuangan Palm Beach Atlantic University, Alexandra Cook, menilai Abel berhasil meyakinkan pemegang saham dalam masa transisi ini.
"Dia memiliki tugas untuk meyakinkan pemegang saham, dan dia melakukannya. Jelas dia mengetahui operasi tersebut secara mendalam," kata Cook.
Kendati demikian, tantangan besar bagi kepemimpinan baru ini adalah mempertahankan karakter unik perusahaan yang selama ini identik dengan figur Buffett. Upaya adaptasi ini diperkirakan membutuhkan waktu bagi sang penerus.
"Abel mungkin akan terbiasa. Tapi dia bukan Warren Buffett," kata bankir ritel di Omaha, Richard Callahan.