PT Sinergi Inti Plastindo Tbk (ESIP) mengumumkan rencana ekspansi berupa pembangunan pabrik baru di tengah dinamika harga bahan baku dan persaingan industri kemasan.
Langkah strategis ini memicu respons positif di pasar modal, membuat saham ESIP sempat menjadi top gainer dengan kenaikan lebih dari 25 persen pada awal pekan terakhir April 2026.
Hingga sesi 1 perdagangan Selasa, 28 April 2026, saham emiten manufaktur ini tercatat telah melonjak lebih dari 60 persen dalam kurun waktu sepekan terakhir, seperti dikutip dari Stocksetup.
PT Sinergi Inti Plastindo Tbk merupakan korporasi yang bergerak di sektor barang baku, khususnya industri plastik kemasan. Perusahaan ini didirikan pada tahun 2001 dan resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 14 November 2019.
Fokus kegiatan utama perserorasi meliputi produksi dan distribusi berbagai jenis kemasan plastik berbasis polietilen. Produk-produk yang dihasilkan mencakup kantong plastik atau kresek, kemasan makanan kering dan cair, cling wrap, sealed bag, serta plastik berbasis HDPE dan LDPE.
Lini bisnis emiten ini terbagi ke dalam empat segmen utama. Pertama, manufaktur plastik kemasan fleksibel. Kedua, industri barang plastik lainnya untuk kebutuhan industri dan rumah tangga. Ketiga, perdagangan bahan baku seperti resin plastik atau karet dasar. Keempat, jaringan distribusi nasional yang menjangkau wilayah Jawa, Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi melalui fasilitas produksi di Jakarta dan Tangerang.
Struktur Manajemen dan Kepemilikan Saham
Struktur kepengurusan dan pengawasan di dalam perseroan diisi oleh jajaran manajemen berikut:
Direktur Utama: Eric Budisetio Kurniawan
Direktur: Mangasi Taraja
Komisaris Utama: Sandra Kusumadewi
Komisaris: Dr Christopher Ben Farmer
Sementara itu, peta kepemilikan saham perusahaan dipegang oleh PT Tanindo Omega Pasifik sebesar 31,9 persen, Eric Budisetio Kurniawan sebesar 31,9 persen, dan masyarakat atau publik sebesar 36 persen.
Tekanan Kinerja Keuangan Sepanjang 2025
Berdasarkan data dari laman IDX, performa keuangan perusahaan sepanjang tahun 2025 memperlihatkan adanya tekanan pada sisi pendapatan maupun profitabilitas.
Nilai penjualan tahunan mencatatkan penurunan menjadi sekitar Rp57,96 miIiar pada 2025, dibandingkan pencapaian tahun 2024 yang menembus Rp61,15 miIiar. Sementara itu, akumulasi penjualan hingga periode September 2025 dilaporkan berada di angka Rp43,77 miIiar.
Tekanan ini juga terlihat pada perolehan laba bersih kuartalan terakhir yang menyusut menjadi Rp311 juta, dari kuartal sebelumnya yang mampu mencapai Rp404 juta.