Kesempatan terakhir bagi investor untuk memperoleh dividen dengan imbal hasil besar dari saham PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) jatuh pada Selasa, 26 Mei 2026. Tanggal tersebut merupakan batas akhir periode cum dividen bagi emiten produsen rokok ini, seperti dikutip dari Investasi.
Masa cum dividen menjadi tenggat penting karena pemodal yang mengincar hak dividen wajib mengoleksi saham bersangkutan paling lambat pada hari tersebut hingga tanggal pencatatan. Alokasi keuntungan ini diputuskan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada Senin, 18 Mei 2026 lalu.
Perusahaan sepakat menggelontorkan dividen tunai final dengan total nilai Rp 6,55 triliun yang diambil dari saldo laba tahun buku 2025. Melalui keputusan tersebut, pemegang saham HMSP akan menerima jatah sebesar Rp 56,3 per saham atau setara dengan Rp 5.630 untuk setiap satu lot.
Nilai tebaran laba kali ini terpantau sedikit lebih tinggi bila disandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya. Pada periode lalu, emiten ini membagikan keuntungan senilai Rp 56,2 per saham dengan akumulasi total mencapai Rp 6,54 triliun.
Pada penutupan perdagangan Senin, 25 Mei 2026, saham HMSP bertengger di level Rp 730 setelah mengalami penurunan 10 poin atau melemah 1,35 persen secara harian. Meski demikian, pergerakan harga sahamnya dalam kurun waktu 30 hari terakhir tercatat masih tumbuh akumulatif sebesar 5 poin atau naik 0,69 persen.
Berdasarkan harga penutupan terakhir tersebut, yield dividen yang ditawarkan oleh HMSP menembus angka 7,7 persen. Besaran imbal hasil ini diperkirakan mencapai tiga kali lipat dari rata-rata suku bunga deposito rupiah pada bank umum yang saat ini berada di kisaran 2 persenan.
Terkait distribusi dana, PT Philip Morris Indonesia yang bertindak selaku pemegang saham pengendali diproyeksikan mengantongi aliran dividen sekitar Rp 6,05 triliun. Di sisi lain, kelompok investor publik mendapatkan porsi pembagian dividen dengan total pasokan berkisar Rp 495,15 miliar.
Manajemen menetapkan batas recording date atau tanggal pencatatan daftar pemegang saham yang berhak pada 2 Juni 2026. Selanjutnya, proses pendistribusian atau pembayaran dividen tunai final dijadwalkan berlangsung pada 19 Juni 2026.
Langkah korporasi dalam membagikan dividen bernilai besar ini searah dengan kondisi finansial perusahaan yang mencatatkan pertumbuhan laba bersih pada awal tahun. Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, laba bersih HMSP mampu terkerek naik ditengah penurunan pendapatan bersih.
Emiten mencatatkan pendapatan bersih senilai Rp 27,2 triliun selama periode Januari hingga Maret 2026. Perolehan tersebut mengalami penyusutan sebesar 5,50 persen secara tahunan jika dibandingkan dengan kuartal I 2025 yang menembus Rp 28,78 triliun.
Namun, tekanan pada pendapatan berhasil diredam oleh penurunan beban pokok penjualan sebesar 6,57 persen secara tahunan menjadi Rp 22,20 triliun. Sebagai perbandingan, beban pokok penjualan pada kuartal pertama tahun lalu berada di angka Rp 23,76 triliun.
Faktor pendorong lain berasal dari pos penghasilan lain-lain yang melesat 16,10 persen secara tahunan hingga mencapai Rp 89,20 miar dari posisi sebelumnya Rp 76,83 miliar. Efisiensi dan tambahan pos ini membuat laba bersih tetap melonjak 7,19 persen menjadi Rp 2,05 triliun dibanding periode maret tahun lalu sebesar Rp 1,91 triliun.
Untuk posisi neraca, total aset yang dimiliki oleh HMSP tercatat berada di angka Rp 51,90 triliun per 31 Maret 2026. Jumlah aset ini memperlihatkan pertumbuhan sebesar 0,66 persen dari posisi akhir tahun buku pada 31 Desember 2025 yang senilai Rp 51,56 triliun.