Saham INDY Melorot Tapi Siap Bagikan Dividen Rp 52 Miliar

Saham INDY Melorot Tapi Siap Bagikan Dividen Rp 52 Miliar

Tren penurunan sedang dialami oleh harga saham PT Indika Energy Tbk (INDY) seiring dengan gejolak yang terjadi pada pasar minyak dunia. Namun, dikutip dari Investasi, perusahaan ini tetap bersiap untuk membagikan dividen tunai dengan nilai total melebihi Rp 52 miliar.

Keputusan pembagian keuntungan tersebut diperoleh melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang diselenggarakan di Jakarta pada Rabu (20/5/2026). Pemegang saham menyepakati alokasi dividen sebesar US$ 3.013.598, yang mencerminkan 50% dari perolehan laba bersih tahun buku 2025.

Nilai dividen tunai tersebut setara dengan lebih dari Rp 52 miliar mengingat nilai tukar rupiah saat ini berada di atas Rp 17.500 per dollar AS. Pada penutupan perdagangan Kamis (21/5/2026), saham INDY sendiri melemah 40 poin ke posisi Rp 2.240 per saham, setelah merosot 40,11% selama sebulan terakhir.

Pihak manajemen menjelaskan bahwa jumlah dividen per lembar saham bakal disesuaikan dengan total saham beredar pada tanggal pencatatan (recording date) 4 Juni 2026. Perhitungan ini juga memperhitungkan saham treasury hasil buyback yang telah dialihkan sebelumnya.

“Perhitungan dividen per saham dalam mata uang rupiah akan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia pada tanggal 20 Mei 2026, dan tanggal pendistribusian dividen final tunai dijadwalkan pada 19 Juni 2026,” tulis manajemen INDY dalam keterangan resmi, Kamis (21/5/2026).

Selain menyetujui laporan keuangan, RUPST memberikan pembebasan tanggung jawab sepenuhnya (acquit et de charge) kepada Direksi dan Dewan Komisaris untuk pengawasan tahun buku 2025. Perusahaan juga menegaskan langkah diversifikasi usaha ke sektor non-batubara.

Direktur Utama dan Group CEO Indika Energy Azis Armand menyampaikan bahwa seluruh belanja modal perseroan fokus dialokasikan untuk pengerjaan tambang emas Awak Mas dan berbagai proyek hijau.

“Kami terus memperkuat transformasi bisnis di mana seluruh belanja modal pada periode ini dialokasikan untuk proyek tambang emas Awak Mas dan berbagai inisiatif bisnis hijau,” ujar Azis.

Menurut Azis, langkah strategis jangka panjang ini diambil demi menyelaraskan arah bisnis perusahaan dengan transisi energi global guna mencapai target net zero emission.

Indika Energy mencatatkan kenaikan laba bersih yang signifikan pada kuartal I-2026 menjadi US$ 7 juta, dari periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar US$ 2,9 juta. Pendapatan usaha juga meningkat tipis mencapai US$ 493,2 juta.

Pertumbuhan pendapatan ditopang oleh kinerja sektor logistik, perdagangan energi, dan sumber daya non-batubara. Anak usaha seperti Tripatra membukukan pendapatan US$ 68,7 juta, dan Interport Mandiri Utama melonjak menjadi US$ 43,1 juta.

Sebaliknya, pendapatan dari Kideco menyusut akibat penurunan volume penjualan serta pelemahan harga jual rata-rata komoditas batubara.

Perseroan mampu mendongkrak profitabilitas lewat efisiensi, sehingga laba kotor tumbuh 16,2% menjadi US$ 74 juta dengan margin laba kotor 15%. Beban keuangan terpantau turun sebesar 8,6% karena penurunan biaya utang.

Sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, belanja modal senilai US$ 26,2 juta sepenuhnya mengalir ke sektor non-batubara. Sebesar US$ 20,4 juta digunakan untuk proyek Awak Mas, dan sisanya untuk bisnis hijau.

Realisasi investasi pada proyek tambang emas Awak Mas telah mencapai US$ 288,1 juta per akhir Maret 2026, dengan progres pengerjaan fisik konstruksi di lapangan berada di angka 56,8%.

Artikel terkait

Rekomendasi