Saham Konglomerasi Rontok Dominasi Sektor Finansial Kembali Kuasai BEI

Saham Konglomerasi Rontok Dominasi Sektor Finansial Kembali Kuasai BEI

Peta kekuatan modal di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami pergeseran besar. Dilansir dari Investasi, saat ini tidak ada lagi emiten di bursa yang mencatatkan nilai kapitalisasi pasar di atas Rp 1.000 triliun.

Situasi tersebut berbanding terbalik dengan kondisi pada pengujung tahun 2025. Saat itu, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sempat memimpin pasar dengan kapitalisasi menyentuh Rp 1.298 triliun atau mengambil porsi 8,19% dari total bobot bursa.

Kini nilai pasar BREN menyusut drastis menjadi kisaran Rp 404 triliun. Kontribusi emiten tersebut terhadap pasar terkoreksi ke angka 3,64%, yang sekaligus melempar posisinya dari puncak ke peringkat empat dalam jajaran emiten terbesar BEI.

Sebaliknya, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali mengambil alih posisi puncak sebagai emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI. Nilai pasar BBCA tercatat menguat ke angka sekitar Rp 726 triliun atau setara dengan 6,54% dari total kapitalisasi.

Padahal pada akhir 2025, BBCA sempat tergeser ke peringkat kedua dengan nilai sekitar Rp 985 triliun akibat lonjakan agresif saham-saham konglomerasi.

Koreksi tajam juga melanda emiten non-bank lainnya. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) melorot dari peringkat empat dengan kapitalisasi Rp 606 triliun menjadi sekitar Rp 270 triliun.

Sementara itu, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang sebelumnya menembus posisi tiga besar, sekarang harus keluar dari daftar 10 besar kapitalisasi pasar BEI.

Fenomena ini membawa berkah bagi sektor finansial yang kembali menguasai papan atas bursa. Selain BBCA, dua bank pelat merah yaitu PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) kini sukses menembus jajaran enam besar emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI.

Direktur Purwanto Asset Management, Edwin Sebayang, memberikan pandangannya terkait dinamika ini. Menurut Edwin, perubahan peta ini menjadi momentum penting untuk membaca arah pergerakan pasar modal Indonesia ke depan.

Investor global dinilai semakin selektif dalam menanamkan modal dan tidak lagi terpaku pada nominal kapitalisasi pasar yang besar.

"Pasar sekarang mulai kembali membedakan market cap riil dengan market cap semu. Investor global lebih peduli free float, governance, likuiditas, dan transparansi dibanding sekadar angka kapitalisasi pasar," ujarnya.

Edwin menambahkan bahwa penurunan nilai pasar ini tidak serta-merta menjadi sinyal memburuknya fundamental internal perusahaan. Fenomena yang terjadi lebih merupakan koreksi valuasi yang wajar setelah mengalami lonjakan yang terlalu agresif sebelumnya.

"Yang runtuh pertama kali bukan operasional bisnisnya, tetapi persepsi valuasi pasar. Sekarang investor mulai masuk ke fase ‘show me the earnings," katanya.

Penyusutan kapitalisasi sejumlah emiten raksasa ini juga berdampak langsung pada bobot saham terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Efek dominasi dari segelintir saham konglomerasi besar terhadap pergerakan indeks kini mulai berkurang secara bertahap.

Edwin memproyeksikan struktur pasar modal ke depan akan bergerak ke arah yang lebih seimbang. Keseimbangan ini ditopang oleh kontribusi lintas sektor mulai dari perbankan, konsumer, telekomunikasi, komoditas, energi, hingga industri.

Pandangan senada diungkapkan oleh Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus. Nico menilai penurunan kapitalisasi pada saham-saham konglomerasi dipicu oleh aksi keluar para investor asing.

"Ketika harga saham turun cukup dalam, market cap juga ikut turun. Ini menunjukkan pelaku pasar, khususnya asing, keluar dari saham tersebut," ujarnya.

Nico menjelaskan bahwa dinamika pasar saat ini bergerak lebih ketat. Prioritas utama pelaku pasar tertuju pada emiten yang memiliki fundamental kokoh, proyeksi pertumbuhan yang transparan, serta likuiditas tinggi untuk menjaga pergerakan harga.

Dalam menghadapi situasi volatilitas pasar saat ini, Nico memberikan rekomendasi bagi para pelaku pasar untuk tetap mencermati saham-saham blue chip berkapitalisasi besar. Beberapa saham yang dinilai masih sangat relevan antara lain BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, serta TPIA.

Artikel terkait

Rekomendasi