Nilai pasar Samsung Electronics sempat merosot hingga 99,07 triliun won atau sekitar 66,18 miliar dolar AS pada Rabu (13/5/2026) setelah negosiasi upah dengan serikat pekerja menemui jalan buntu. Penurunan harga saham sebesar 6,09 persen tersebut terjadi menyusul ancaman mogok kerja massal selama 18 hari yang dijadwalkan mulai 21 Mei mendatang.
Lebih dari 41.000 pekerja diperkirakan akan berpartisipasi dalam aksi mogok tersebut, yang pertama kali diumumkan pada rapat umum bulan April lalu. Gejolak pasar ini akhirnya mereda dan berbalik positif setelah pejabat tinggi pemerintah Korea Selatan turun tangan untuk menenangkan situasi.
Perwakilan serikat pekerja, Choi Seung-ho, menyatakan kekecewaannya atas hasil perundingan yang dianggap tidak mengakomodasi tuntutan karyawan terkait sistem bonus. Serikat pekerja menuntut alokasi 15 persen dari laba operasional sebagai bonus kinerja dan penghapusan batas atas pembayaran bonus.
"I would like to express some regret that none of the agenda items requested by the union have been addressed," ujar Choi Seung-ho, perwakilan serikat pekerja, dilansir dari Reuters.
Pihak manajemen Samsung sebelumnya telah menawarkan alokasi bonus sebesar 10 persen dari laba operasional beserta paket kompensasi khusus satu kali menurut laporan kantor berita Yonhap. Namun, tawaran tersebut belum memuaskan pihak serikat yang menekankan dampak signifikan terhadap produksi perusahaan.
Berdasarkan klaim serikat pekerja, aksi unjuk rasa pada 23 April yang diikuti 40.000 buruh telah menyebabkan penurunan produksi pengecoran sebesar 58 persen dan produksi memori sebesar 18 persen. Mogok kerja selama 18 hari diprediksi dapat merugikan perusahaan hingga 30 triliun won.
Menteri Keuangan Korea Selatan, Koo Yun Cheol, memberikan respons tegas melalui unggahan di media sosial X untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Pemerintah mendesak kedua belah pihak agar segera mencapai kesepakatan guna menghindari gangguan lebih lanjut pada perusahaan teknologi raksasa tersebut.
"Samsung Electronics is an important company that the world is watching," tulis Koo Yun Cheol, Menteri Keuangan Korea Selatan.
Ia menegaskan bahwa langkah mogok kerja tidak boleh terjadi karena peran vital Samsung terhadap perekonomian negara. Koo meminta manajemen dan pekerja tetap mengedepankan negosiasi yang berprinsip di tengah situasi manajemen yang menantang.
"Considering the current management situation and its impact on the national economy, both labor and management sides must continue to strive to achieve principled negotiations," tulis Koo Yun Cheol, Menteri Keuangan Korea Selatan.
Sentimen pasar membaik setelah adanya instruksi dari Perdana Menteri Kim Min Seok agar pemerintah mengelola situasi dengan ketat guna mencegah pemogokan. Langkah intervensi ini dilakukan di tengah periode pertumbuhan kuat Samsung yang mencatatkan kenaikan laba operasional kuartal pertama sebesar 750 persen dibandingkan tahun sebelumnya.