Salmi Sufraini Mengembangkan Usaha Cangcomak Melalui Rumah BUMN BRI

Salmi Sufraini Mengembangkan Usaha Cangcomak Melalui Rumah BUMN BRI

Seorang ibu rumah tangga bernama Salmi Sufraini (43) sukses mengembangkan bisnis kuliner rumahan Cangcomak hingga menembus jaringan ritel modern melalui pembinaan dari Rumah BUMN BRI di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, pada Sabtu (7/6/2026).

Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang dirintis sejak akhir tahun 2019 dengan modal awal Rp 750 ribu ini memproduksi camilan kacang coklat renyah berdasarkan resep turun-temurun keluarga, seperti dilansir dari Detik Finance.

Salmi memulai usaha ini setelah perusahaan tempatnya bekerja mengalami kebangkrutan, lalu ia mendaftarkan usahanya ke Rumah BUMN BRI pada tahun 2020 untuk mendapatkan pelatihan digital serta bantuan legalitas produk.

"Ini idenya dari rumah. Kan resep orang tua, makanya dinamakan Cangcomak (Kacang Coklat Emak). Jadi memang resep turun-temurun, baru turun satu generasi dari Emak," kisah Salmi.

Produk kuliner ini dinilai memiliki keunikan karena menggunakan teknik pembuatan tradisional dengan cara dipanggang, bukan digoreng.

"Kacang di-coating (dibalut) coklat lalu dipanggang. Jadinya tidak lengket, tidak berminyak karena tidak digoreng, dan tidak lumer. Biasanya kan coklat kalau kena panas lumer, nah ini malah crunchy," jelas Salmi.

Proses pengolahan bahan baku juga tetap dipertahankan dalam skala kecil demi menjaga konsistensi rasa originalnya.

"Bikinnya itu autentik banget. Jadi 1 kg resep dibuat dan dipanggang, bukan yang langsung dalam bentuk bulky berat 10 kg sekaligus, nggak. Kualitasnya dijaga di situ," terangnya.

Mantan karyawan swasta tersebut mengaku mendapatkan inspirasi berbisnis dari kudapan khas Hari Raya Idul Fitri yang biasa dibuat ibunya.

"Waktu itu mikir, kayaknya udah deh, pengen punya usaha sendiri," ungkapnya.

Salmi melihat potensi pasar yang besar karena belum ada kompetitor yang menjual produk serupa dengan karakteristik sekering ini.

"Saya mikir, Mamah kan punya resep tuh, kayaknya lucu juga kalau dijual. Soalnya jarang banget ada orang yang punya produk seperti ini. Entah saya yang mainnya kurang jauh, atau memang belum pernah ketemu produk sejenis, tapi kayaknya emang belum pernah lihat ada yang sama," kata Salmi.

Sebelum usahanya membesar, ia sempat mengalami kesulitan dalam memahami dokumen perizinan pangan komersial.

"Jadi benar-benar belajar dari nol. Karena kalau mau usahanya berkembang harus kita siapkan legalitasnya," ungkapnya.

Setelah bergabung dengan program pendampingan, pemilik usaha dipacu untuk mentransformasi sistem penjualan konvensional menjadi serbadigital.

"Yaudah jadi dipaksa suruh belajar. Belajar di dunia digital. Dari yang kita tidak tahu tentang cara mengelola usaha biar tidak salah arah, di situ kita diarahkan dan difokuskan," cerita Salmi.

Pihak manajemen berpendapat bahwa keberhasilan sebuah UMKM sangat bergantung pada komitmen dan kemauan pemiliknya untuk terus berkembang.

"Balik lagi ke personal owner-nya, mau belajar apa enggak? Kalau punya mindset bisnis owner, kita enggak boleh cuma mikirin jualan doang, tapi bagaimana mengembangkan usaha ini," tegasnya.

Bantuan dari korporasi juga mencakup penyediaan sarana pemasaran dan pembebasan biaya pengurusan sertifikat resmi.

"Dulu dari BRI banyak banget aku dapat fasilitasnya. Pelatihan sudah pasti. Terus dapat kemasan gratis, hingga sertifikasi halal gratis," ungkap Salmi.

Pemberian ribuan kemasan baru secara cuma-cuma sempat membuat produsen terkejut mengenai target distribusi penjualannya.

"Saya sampai kaget, ini bagaimana jualannya segini banyak?," kenang Salmi.

Kini pemasaran Cangcomak meluas ke seluruh Indonesia melalui platform e-commerce, dengan harga produk yang dipatok antara Rp 10.000 hingga Rp 75.000 per item.

"Digitalisasinya sudah dapat semua. Belajar Shopee, Instagram, sampai TikTok. Semuanya dicoba, termasuk e-commerce lain," jelasnya.

Sementara itu, Koordinator Rumah BUMN BRI, Jajang Rohmana menyatakan bahwa lembaga tersebut berkomitmen mendampingi pelaku usaha lokal secara gratis dari tahap awal hingga naik kelas.

"Program kami bukan hanya sebatas pelatihan, tetapi ada juga program-program lain yang memfasilitasi perkembangan UMKM, salah satunya pengurusan legalitas. Karena permasalahan UMKM itu banyak dan bermacam-macam, jadi program-program di Rumah BUMN dirancang untuk melengkapi semua kebutuhan tersebut," jelas Jajang.

Setiap anggota baru diwajibkan mengikuti proses penilaian awal untuk memetakan kelebihan dan kekurangan manajemen bisnis mereka.

"Kami akan mengarahkan mereka untuk fokus mengikuti pelatihan pada 3 aspek terendah tersebut. Setelah itu, kami menyiapkan program pelatihan dengan mengundang narasumber yang ahli expert di bidangnya," terangnya.

Hingga tahun 2026, Rumah BUMN BRI di bawah naungan BRI KC S Parman telah membina sekitar 11.000 UMKM dengan 6.000 di antaranya berstatus aktif.

"Tingkatannya terdiri dari Go Modern, Go Digital, Go Online, dan Go Global. Sebenarnya, kelas Go Digital itu ditujukan untuk mendorong UMKM agar siap menguasai pasar global. Namun, karena tidak semua jenis produk bisa diekspor ke luar negeri, fokus utama kami saat ini adalah mengoptimalkan proses digitalisasi," jelasnya.

Artikel terkait

Rekomendasi