Istilah ultra-processed food (UPF) belakangan ini menjadi perbincangan hangat di jagat media sosial. Banyak masyarakat mulai bersikap selektif terhadap konsumsi makanan harian mereka dan mempertanyakan keandalan nutrisi produk kemasan.
Diskusi mengenai sarden kalengan mencuat setelah seorang influencer menyatakan bahwa makanan ini tidak selalu masuk dalam kategori UPF. Penjelasan tersebut mengejutkan publik yang selama ini menyamaratakan semua produk kalengan sebagai makanan industri berbahaya, seperti dilansir dari Detik Health pada Selasa (19/5/2026).
Pengelompokan makanan berdasarkan tingkat pemrosesannya sebenarnya mengacu pada klasifikasi NOVA yang diinisiasi oleh para ilmuwan University of Sao Paulo, Brazil. Sistem ini membagi makanan menjadi empat kelompok yang berbeda.
Kelompok pertama adalah makanan tidak diproses atau minim proses seperti buah, sayur, telur, susu, ikan segar, dan kacang-kacangan. Kelompok kedua merupakan bahan kuliner terolah seperti gula, garam, mentega, dan minyak.
Kelompok ketiga adalah makanan olahan yang memanfaatkan garam, gula, atau minyak untuk menambah masa simpan serta rasa, termasuk ikan kalengan. Sementara kelompok keempat adalah UPF yang berupa hasil formulasi industri dengan tambahan perisa, pewarna, pemanis, emulsifier, dan aditif lainnya.
Proses pengalengan pada dasarnya merupakan sebuah teknik pengawetan agar makanan dapat bertahan lama serta tetap aman untuk dikonsumsi. Anggapan keliru muncul karena masyarakat menilai seluruh makanan dalam kemasan otomatis berstatus UPF.
Mayoritas produk sarden kalengan memiliki komposisi yang sangat sederhana karena hanya memadukan ikan sarden, saus tomat atau minyak, dan garam. Formulasi yang ringkas ini membuat sarden kalengan lebih tepat masuk dalam kategori makanan olahan atau kelompok ketiga klasifikasi NOVA.
Status sarden kalengan tidak dapat disamaratakan karena sangat bergantung pada detail komposisi dan tingkat pengolahan pabrik. Produk dengan bahan baku minimal memiliki posisi yang berbeda dibanding olahan yang menggunakan banyak zat aditif kompleks.
Persoalan sehat atau tidaknya suatu makanan tidak hanya ditentukan oleh proses pengemasan yang dialaminya. Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan IPB, Prof Dr Ir Purwiyatno Hariyadi, menegaskan bahwa makanan kalengan tidak serta-merta berstatus tidak sehat.
"Yang tidak menyehatkan itu kandungan gula, garam, lemaknya, atau apakah ada bahan tambahannya," ujarnya.Masyarakat diimbau untuk lebih cermat memeriksa label komposisi serta informasi nilai gizi yang tertera pada kemasan daripada sekadar melihat bentuk fisiknya.
"Tolong lihat kandungan garamnya. Kandungan lemaknya. Karena formulasi sardin juga ada yang sardin in brine, berarti garam. Ada sardin in oil, berarti lemak," katanya.Penilaian terhadap kelayakan suatu makanan harus disesuaikan dengan kandungan nutrisi serta kebutuhan spesifik dari masing-masing individu.
Potensi Nutrisi dan Pola Konsumsi
Sarden kalengan tetap menjadi alternatif pangan praktis yang bernilai gizi tinggi bagi masyarakat. Produk ini menyimpan kandungan protein esensial dan omega-3 yang memberikan dampak positif untuk kesehatan tubuh.
Konsumen harus tetap waspada terhadap kadar sodium atau garam yang terkadang cukup tinggi pada beberapa merek tertentu. Penyelarasan menu makanan secara menyeluruh jauh lebih krusial dibandingkan hanya terpaku pada satu jenis bahan pangan saja.