Sejumlah Bank Catat Rasio NPL Gross Tinggi Per Maret 2026

Sejumlah Bank Catat Rasio NPL Gross Tinggi Per Maret 2026

Sejumlah perbankan di Indonesia masih mencatatkan rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) gross yang cukup tinggi per Maret 2026. Data mengenai rasio keuangan ini dilansir dari Keuangan.

PT Bank Amar Indonesia Tbk merekam angka NPL gross sebesar 8,41% pada periode tersebut. Angka ini sebenarnya memperlihatkan perbaikan jika disandingkan dengan posisi Maret 2025 yang mencapai 10,89%.

Kondisi serupa terjadi pada PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank) yang membukukan NPL gross sebesar 9,83% pada Maret 2026. Nilai tersebut mengalami kenaikan dari periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar 9,10%.

Di sisi lain, PT Bank of India Indonesia Tbk melaporkan penurunan rasio NPL gross menjadi 5,41% dari sebelumnya 7,09%. Beberapa bank lain tercatat mulai mendekati ambang batas 5%.

PT Bank Raya Indonesia Tbk mencatat kenaikan NPL gross menjadi 4,81% dari posisi 3,70%. Sementara Bank Banten mencatatkan penurunan menjadi 4,50% dari 7,22%, dan PT Bank Sahabat Sampoerna turun menjadi 4,51% dari 4,81%.

Tren rasio di atas 3% juga terlihat pada beberapa emiten perbankan lain. PT Bank Mayapada Internasional Tbk mencatatkan NPL gross 3,60% per Maret 2026, naik dari posisi 3,53% pada setahun sebelumnya.

MNC Bank menorehkan angka NPL gross sebesar 3,23%. Rasio tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan dengan perolehan tahun lalu yang berada pada level 4,34%.

Presiden Direktur KB Bank, Kunardy Darma Lie mengatakan tingginya NPL perseroan masih dipengaruhi proses penataan dan perbaikan kualitas portofolio kredit yang sedang berjalan, termasuk legacy portfolio dari periode sebelumnya.

"Sebasiang legacy portfolio menghadapi tekanan usaha akibat dinamika ekonomi. Perseroan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penilaian kualitas aset agar profil risiko tercermin secara konservatif dan transparan," ujar Kunardy kepada Kontan.co.id, Selasa (26/5).

Situasi kualitas aset saat ini mendorong KB Bank untuk lebih ketat dalam menyalurkan pembiayaan. Meski demikian, langkah ekspansi kredit perseroan dipastikan tidak berhenti.

"Bank tetap melakukan penyaluran kredit secara terukur dengan fokus pada debitur dan sektor yang memiliki fundamental kuat, arus kas sehat, serta sejalan dengan risk appetite perseroan," katanya.

Manajemen KB Bank menerapkan strategi penyehatan aset melalui restrukturisasi, penguatan penagihan, percepatan pemulihan, hingga optimalisasi agunan. Pembentukan CKPN juga terus dilakukan secara konsisten.

SVP Finance Amar Bank, David Wirawan menilai rasio gross NPL kurang tepat dijadikan satu-satunya acuan untuk melihat kualitas aset bank digital yang bermain di segmen mikro tanpa agunan.

Pihaknya lebih menitikberatkan pengawasan pada NPL net yang kini berada di posisi 0,86%. Angka tersebut mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan tahun lalu.

"Net NPL menjadi metrik yang lebih representatif karena mempertimbangkan perbedaan risiko antar sektor. Segmen UMKM secara alami memiliki risiko lebih tinggi dibanding korporasi," ujar David.

Penyaluran kredit bruto Amar Bank tumbuh 30,62% secara tahunan menjadi Rp 4,17 triliun. Manajemen menerapkan sistem underwriting dan manajemen risiko berbasis data untuk menjaga kualitas aset.

"Strategi kami menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas aset, sehingga ekspansi dilakukan secara prudent, berbasis data, dan terukur," katanya.

Direktur Finance and Business Planning Bank Sahabat Sampoerna, Henky Suryaputra mengungkapkan tingginya NPL perseroan dipengaruhi besarnya eksposur kredit ke sektor UMKM.

"Sebesar 59% portofolio kredit kami dialokasikan ke sektor UMKM yang memang lebih rentan terhadap dinamika ekonomi domestik dan daya beli masyarakat," ujar Henky.

Kendati rasio NPL gross cukup tinggi, ekspansi pembiayaan baru dipastikan belum terhambat. Manajemen tetap menyalurkan kredit secara selektif.

"NPL net Bank Sampoerna masih berada di level aman 2,70%, jauh di bawah batas regulator sebesar 5%," katanya.

Sektor perdagangan eceran serta jasa mikro menjadi penyumbang utama fluktuasi rasio kredit bermasalah karena sensitif terhadap arus kas harian. Guna menekan risiko, perseroan memperkuat ekosistem digital bersama mitra strategis.

Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto menilai tingginya NPL sejumlah bank dipengaruhi kombinasi legacy loans, karakteristik segmen kredit, serta dampak lanjutan berakhirnya restrukturisasi kredit Covid-19.

"Untuk bank turnaround seperti KB Bank dan Bank Banten, NPL tinggi sebagian besar merupakan carry over aset bermasalah dari masa lalu," ujar Myrdal.

Bagi bank digital dengan model bisnis pembiayaan mikro tanpa agunan, rasio NPL tinggi menjadi sebuah karakteristik. Hal tersebut dikompensasi oleh margin bunga bersih yang lebih tinggi.

"NPL tinggi membuat fokus manajemen bergeser dari pertumbuhan menjadi penyelamatan aset," katanya.

Langkah pembersihan portofolio lama dinilai perlu dilakukan melalui penghapusbukan selektif, penjualan kredit macet, hingga rebalancing portofolio ke segmen rendah risiko.

Artikel terkait

Rekomendasi