Lembaga Sekuritas Pertahankan Rekomendasi Beli Saham BBCA

Lembaga Sekuritas Pertahankan Rekomendasi Beli Saham BBCA

Sejumlah lembaga sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) setelah emiten perbankan swasta tersebut merilis laporan kinerja keuangan dengan capaian laba bersih bank-only senilai Rp20,8 triliun hingga April 2026.

Kinerja pasar modal ini diulas secara terpisah oleh beberapa lembaga sekuritas dengan proyeksi target harga saham yang bervariasi pada Selasa (19/5/2026). Penilaian positif tersebut didorong oleh perolehan laba bersih bulanan khusus pada April 2026 yang menyentuh angka Rp4,8 triliun.

Pertumbuhan laba bulanan ini dipicu oleh peningkatan pendapatan non-bunga sebesar 8 persen secara tahunan menjadi Rp10,43 triliun. Total capaian laba bersih selama empat bulan pertama tersebut telah memenuhi 34 persen dari target konsolidasi sepanjang tahun 2026.

"Perolehan laba bersih tersebut sejalan dengan ekspektasi, karena setara 34% dari estimasi konsensus untuk konsolidasi tahun 2026. Sebagai pembanding, pada 4M25 mencapai 35% dari realisasi konsolidasi 2025," tulis Stockbit Sekuritas dalam catatannya, yang dikutip pada Selasa (19/5/2026).

Ulasan lain datang dari Ciptadana Sekuritas Asia yang memaparkan bahwa valuasi saham BBCA saat ini diperdagangkan pada 2,4x PBV dan 11,7x PE estimasi 2026, sehingga mencerminkan diskon mendalam dari rata-rata historis. Pihak Ciptadana Sekuritas Asia menyematkan rekomendasi beli dengan target harga Rp9.200 per saham.

Di sisi lain, MNC Sekuritas turut mempertahankan rekomendasi beli namun menurunkan target harga saham BBCA menjadi Rp8.700 dari posisi sebelumnya Rp10.500 per lembar saham. Estimasi penurunan target harga tersebut didasarkan pada revisi tingkat imbal hasil yang disyaratkan investor menjadi 7,5 persen.

Berdasarkan data operasional, penyaluran kredit korporasi BBCA terhitung tumbuh melambat selama empat bulan berturut-turut menjadi Rp965,01 triliun atau hanya naik 5 persen secara tahunan. Manajemen emiten memilih bersikap konservatif dengan mengalihkan penempatan dana ke instrumen surat berharga yang melonjak 17,55 persen secara tahunan menjadi Rp425,41 triliun.

Kebijakan tersebut memicu penurunan beban provisi sebesar 16 persen secara tahunan menjadi Rp1,06 triliun akibat adanya pembalikan provisi pada bulan April, sehingga membuat rasio biaya kredit berada di level 0,3 persen. Kendati demikian, penghimpunan dana pihak ketiga tetap tumbuh agresif sebesar 8,56 persen secara tahunan menjadi Rp1.246,05 triliun yang ditopang oleh dana murah berupa giro dan tabungan.

Kondisi ini menjaga rasio dana murah tetap solid di angka 84,97 persen dengan loan to deposit ratio memadai di level 77,45 persen. Pada perdagangan saham hari Senin, harga saham BBCA menguat menuju level Rp6.125 per lembar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp1,25 triliun, di mana investor asing mencatatkan nilai beli bersih terbesar di pasar reguler Bursa Efek Indonesia senilai Rp107,1 miliar.

Lembaga riset keuangan menilai permodalan kuat serta efisiensi berkelanjutan akan mendukung ketahanan laba emiten di masa depan, meskipun ada risiko dari potensi perlambatan kredit dan pemburukan ekonomi makro.

Tabel Kinerja Keuangan Individual PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Hingga April 2026
Indikator (Rp miliar)4M 20254M 2026YoY% Target 2026Feb 2026Mar 2026Apr 2026YoYMoM
Pendapatan Bunga30.34530.5371%29%7.2447.9047.6470%-3%
Beban Bunga4.0804.3517%26%1.0141.0781.1445%6%
NII26.26526.1860%29%6.2306.8266.502-1%-5%
Pendapatan Non-Bunga9.70610.4368%35%2.0184.0572.14811%-47%
Beban Operasi10.28910.3681%27%2.8112.3612.75912%17%
PPoP25.68126.2532%33%5.4368.5235.892-2%-31%
Beban Provisi1.2751.068-16%28%229606-28-106%-105%
Laba Operasi24.40625.1853%33%5.2077.9175.9207%-25%
Pajak4.1954.3684%29%9781.1271.1227%-1%
Laba Bersih20.21120.8173%34%4.2306.7904.7996%-29%

Artikel terkait

Rekomendasi