PT Semen Baturaja (Persero) Tbk (SMBR) berhasil meraih penghargaan Proper Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada Rabu (6/5/2026) atas komitmen keberlanjutan lingkungan. Capaian ini diraih perusahaan semen pelat merah tersebut di tengah pertumbuhan laba bersih yang signifikan sepanjang tahun buku 2025.
Predikat Proper Hijau diberikan kepada SMBR karena dinilai telah melampaui standar kepatuhan pengelolaan lingkungan atau beyond compliance. Dilansir dari Money, integrasi strategi bisnis dan keberlanjutan lingkungan ini menjadi langkah perseroan dalam menghadapi ketatnya persaingan di industri semen nasional.
Direktur Utama SMBR Suherman Yahya memberikan penegasan bahwa hasil ini membuktikan transformasi berbasis keberlanjutan telah masuk dalam inti strategi perusahaan.
"Pencapaian Proper Hijau ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kinerja lingkungan sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan pemangku kepentingan," ujar Suherman, Direktur Utama SMBR.
Ia menambahkan bahwa efisiensi energi dan reduksi emisi karbon menjadi fokus utama inovasi perseroan di sektor industri yang dikenal memiliki konsumsi energi tinggi.
"SMBR berkomitmen untuk terus menghadirkan inovasi yang mendukung efisiensi energi, pengurangan emisi karbon, serta pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab," kata Suherman, Direktur Utama SMBR.
Dalam penilaian Proper tersebut, perseroan menerapkan optimalisasi energi alternatif serta efisiensi proses produksi. Langkah ini diperkuat melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) di sekitar area operasional sebagai bentuk implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Berdasarkan data keuangan tahun 2025, SMBR membukukan laba bersih senilai Rp 171,92 miliar, atau melonjak 33 persen dari Rp 129,25 miliar pada tahun sebelumnya. Peningkatan volume penjualan dan optimalisasi distribusi mendorong pendapatan tumbuh 12,9 persen menjadi Rp 2,36 triliun.
Margin laba bersih perseroan tercatat naik menjadi 7,3 persen dari posisi 6,2 persen pada 2024. Peningkatan profitabilitas ini sejalan dengan penurunan beban keuangan sebesar 32,9 persen menjadi Rp 52,93 miliar berkat efisiensi pengelolaan utang.
Neraca keuangan perseroan menunjukkan penguatan dengan total ekuitas mencapai Rp 3,41 triliun, meningkat 4,6 persen dibandingkan tahun lalu. Sementara itu, liabilitas SMBR mengalami penurunan 17,8 persen menjadi Rp 1,36 triliun yang memperkuat rasio utang perusahaan agar tetap sehat.