PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) berhasil membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp80 miliar pada kuartal I-2026, berdasarkan laporan yang dilansir dari Investasi. Perolehan tersebut mencerminkan pertumbuhan signifikan sebesar 89 persen secara tahunan, meskipun realisasi ini dinilai masih berada di bawah ekspektasi pasar.
Peningkatan laba emiten semen milik negara ini juga tercatat naik 6 persen dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Kendati tumbuh solid dari sisi pendapatan yang mencapai kenaikan 8 persen secara tahunan, sejumlah faktor operasional dan beban pajak membuat perolehan laba belum memenuhi proyeksi para analis.
Analis UBS Sekuritas Indonesia Ivan Reynaldo Sutheja menilai dalam risetnya bahwa pencapaian laba pada tiga bulan pertama tahun ini baru memenuhi sebagian kecil dari target tahunan.
"Kontribusi laba kuartal I-2026 juga lebih lower dibandingkan pola musiman kuartal I-2025 yang mencapai 22%," tulis Ivan dalam risetnya tanggal 30 April 2026.
Menurut analisis tersebut, tekanan pada profitabilitas perusahaan dipicu oleh lonjakan tarif pajak efektif yang mencapai 57 persen, serta kenaikan biaya tunai per ton sebesar 8 persen secara tahunan. Namun, pertumbuhan pendapatan perseroan tetap tertopang oleh kenaikan penjualan domestik sebesar 7,7 persen.
"Kinerja ini mencerminkan kemajuan dari upaya restrukturisasi perusahaan," ujar Ivan.
Prospek pemulihan kinerja perseroan pada periode berikutnya diperkirakan akan bergantung pada kondisi permintaan pasar domestik serta realisasi proyek-proyek konstruksi.
"Jika tren pemulihan permintaan domestik berlanjut pada kuartal II, didukung realisasi proyek konstruksi dan perbaikan distribusi, maka pendapatan SMGR masih berpeluang melanjutkan pertumbuhan," kata Ekky Topan, Investment Analyst Infovesta Utama pada Senin (18/5/2026).
Ekky menambahkan bahwa tantangan berupa kelebihan pasokan di industri semen, persaingan harga, serta kenaikan biaya energi dan logistik masih menjadi faktor utama yang harus diwaspadai oleh para investor sepanjang tahun ini.