PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 89 persen secara tahunan menjadi Rp80 miliar pada kuartal I-2026, dilansir dari Investasi. Kenaikan signifikan ini didorong oleh volume penjualan domestik yang meningkat, meskipun kualitas pertumbuhan laba perseroan masih dibayangi oleh tingginya beban biaya produksi.
Hasil riset pasar menunjukkan bahwa pendapatan perusahaan pada kuartal I-2026 tercatat mencapai Rp8,29 triliun atau mengalami kenaikan sebesar 8 persen secara tahunan. Kendati demikian, margin EBITDA perseroan justru mengalami penurunan menjadi 13 persen dari sebelumnya 14 persen, dan margin EBIT turun menjadi 3 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar 4 persen.
Kondisi profitabilitas yang tertekan tersebut dipicu oleh lonjakan biaya bahan bakar serta energi ke level tertinggi sejak tahun 2019, dengan kenaikan biaya energi per ton mencapai 13 persen secara kuartalan dan 3 persen secara tahunan. Beban overhead lain per ton juga melonjak 13 persen secara tahunan, dibarengi kenaikan beban umum dan administrasi sebesar 11 persen.
Dari sisi operasional, volume penjualan semen domestik perusahaan berhasil tumbuh 5 persen secara tahunan menjadi 6,54 juta ton, di mana penjualan semen kantong melonjak 11 persen dan berkontribusi terhadap bauran volume domestik sebesar 75 persen. Analis J.P. Morgan, Arnanto Januri dan Benny Kurniawan memberikan sorotan khusus terhadap perkembangan kinerja keuangan dan operasional perseroan ini.
"Pendapatan kuartal I-2026 tumbuh 8% YoY, ditopang kenaikan volume penjualan semen domestik. Namun, pertumbuhan laba secara absolut hanya sekitar Rp 37 miliar yang menunjukkan biaya masih tinggi dan menggerus operating leverage," tulis Arnanto Januri dan Benny Kurniawan, Analis J.P. Morgan dalam risetnya yang diterbitkan pada 30 April 2026.
Berdasarkan analisis tersebut, kinerja operasional dasar perusahaan dinilai belum sepenuhnya membaik akibat tekanan biaya. J.P. Morgan tetap mempertahankan rekomendasi underweight untuk saham SMGR dengan target harga yang ditetapkan sebesar Rp2.100 per saham.
Tantangan bagi industri semen pada tahun 2026 diproyeksikan masih besar karena pertumbuhan permintaan yang minim akibat kondisi makroekonomi yang melemah dan persaingan harga regional. Pertumbuhan kinerja masa depan perseroan kini bergantung pada pemulihan belanja infrastruktur pemerintah, peningkatan daya beli masyarakat, serta efisiensi biaya pada bisnis non-semen.