Semen Indonesia Likuidasi Empat Anak Usaha demi Efisiensi Bisnis

Semen Indonesia Likuidasi Empat Anak Usaha demi Efisiensi Bisnis

PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) melakukan perampingan struktur bisnis dengan membubarkan dan melikuidasi sejumlah entitas anak serta cucu usahanya di Jakarta sejak tanggal 19 hingga 21 Mei 2026.

Langkah korporasi emiten semen pelat merah ini diambil sebagai bagian dari strategi efisiensi, sebagaimana dilansir dari Investasi dari keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia.

Melalui PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB), SMGR melikuidasi PT Ciptanugrah Indonesia dan PT Aroma Sejahtera Indonesia pada 20 Mei 2026, serta PT Aroma Cipta Anugrahtama pada 19 Mei 2026.

Pembubaran entitas tersebut telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang juga menunjuk Fany Wulandari, Andika Lukmana, dan Sri Setio Inantoro sebagai tim likuidator.

Selanjutnya pada 21 Mei 2026, SMGR membubarkan PT Energi Makmur Agung Sejahtera yang merupakan cicit usaha melalui PT Semen Padang, dengan menunjuk Zulfahmi sebagai likuidator.

"Tidak terdapat dampak kejadian, informasi, atau fakta material tersebut terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan, atau kelangsungan usaha perusahaan," tulis Direktur Utama Semen Indonesia Indrieffouny Indra.

Langkah penataan organisasi ini dinilai oleh pengamat pasar modal sebagai upaya positif untuk melepaskan beban dari unit bisnis yang kurang produktif.

“Memang, asetnya (SMGR) akan berkurang, tapi itu tidak menjadi masalah. Soalnya aset yang dilepas adalah aset non-produktif,” imbuh Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta.

Kebijakan penutupan entitas non-produktif tersebut diproyeksikan membuat SMGR lebih fokus pada bisnis inti seperti produksi semen dan produk ready mix concrete.

Meskipun demikian, perseroan masih menghadapi tantangan industri berupa kelebihan kapasitas produksi nasional, kenaikan suku bunga acuan, serta lonjakan biaya energi batubara dan BBM industri.

Pada perdagangan Jumat (22/5), harga saham SMGR terpantau stagnan di level Rp 1.775 per saham setelah sempat bergerak volatil pada awal sesi.

Artikel terkait

Rekomendasi