Mantan atlet balap sepeda nasional Seno Sudono (74) mengandalkan pembiayaan perbankan dan penjaminan kredit untuk mempertahankan operasional usaha mebel miliknya di Semarang, Jawa Tengah, pada Kamis (7/5/2026). Dilansir dari Money, unit usaha yang dirintis sejak era 1980-an tersebut kini mempekerjakan delapan pegawai dengan fokus produksi komponen bangunan kayu jati.
Seno memulai bisnis kayu pada tahun 1981 setelah melihat peluang di kawasan pinggiran Semarang yang kala itu masih didominasi hutan. Pilihan profesi ini diambil saat usianya menginjak 31 tahun sebagai persiapan masa depan pasca-pensiun dari dunia olahraga internasional.
"Yang lewat sini jarang karena masih hutan, kalau jam 16.00 WIB sudah sepi, tidak ada kendaraan lewat," ujar Seno saat ditemui Kamis (7/5/2026).
Modal awal usaha ini berasal dari bonus prestasi selama menjadi atlet, termasuk medali emas internasional yang diduplikasi menjadi emas murni untuk pendanaan. Selain mengelola bengkel mebel, Seno tercatat sebagai sarjana keuangan perbankan dan sempat berkarier sebagai Pegawai Negeri Sipil hingga tahun 2009.
"Saya dulu selesai itu kan masih punya sisa bonus, terus saya menduplikasikan medali dengan medali emas murni. Saya gunakan untuk modal," ungkap dia.
Meski pernah mencapai masa keemasan saat memasok bangku untuk program SD Inpres pada era 1990-an, kondisi bisnis saat ini diakui sedang mengalami tekanan signifikan. Seno menyebutkan bahwa penurunan permintaan mulai terasa sangat tajam dalam kurun waktu tiga bulan terakhir.
"Ini, dua tiga bulan ini lho, yang order sedikit, karena yang order di sini itu hanya orang-orang tertentu yang senang kayu jati toh," terang dia.
Demi menjaga kelangsungan operasional tanpa melakukan pemutusan hubungan kerja, Seno memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp 150 juta. Keberadaan jaminan dari PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) memberikan kepastian bagi pelaku UMKM seperti dirinya dalam mengakses permodalan.
"Pokoknya kita itu intinya tidak pernah memberhentikan karyawan," ujar dia.
Branch Manager Askrindo Semarang Gami Aji L mencatat bahwa total penjaminan KUR di wilayah kerjanya telah mencapai Rp 1,3 triliun hingga April 2026. Penyerapan ini melibatkan sekitar 24.000 debitor di wilayah Kota Semarang dan sekitarnya.
"Total premi yang kami kumpulkan selama 2026 sampai dengan April itu Rp 40,2 miliar. Total klaim gabungan Rp 10,7 miliar," ucap dia dalam Media Gathering, Kamis (7/5/2026).
Pertumbuhan positif juga terlihat pada cakupan wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Regional Office Head III Askrindo Semarang Henry Sabar menjelaskan bahwa premi di wilayah tersebut tumbuh 9 persen pada kuartal I-2026 yang didominasi oleh sektor perdagangan dan nelayan.
"Cakupan kita malah meningkat 9 persen, kalau dari Jateng dan DIY itu memang kebanyakan di pesisir, banyak perdagangan, kemudian juga nelayan di pesisir," ucap dia.
Laba yang dibukukan oleh Regional Office Head III Askrindo mencapai Rp 66 miliar pada periode yang sama. Henry menilai situasi ekonomi bagi para pelaku usaha di wilayah tersebut secara perlahan mulai menunjukkan grafik peningkatan.
"Sudah mulai membaik kondisi," tutup dia.