Sentra Atribut TNI-Polri Kramat Bertahan Lewat Pesanan Partai Besar

Sentra Atribut TNI-Polri Kramat Bertahan Lewat Pesanan Partai Besar

Kawasan Kramat di Senen, Jakarta Pusat, tetap eksis sebagai pusat penyedia perlengkapan satpam, atribut TNI-Polri, serta jasa jahit dan bordir seragam. Kelangsungan usaha di area ini bertumpu pada pesanan grosir di tengah pergeseran kebiasaan belanja masyarakat.

Para pedagang di pusat pertokoan ini menghadapi tantangan berupa penurunan jumlah pembeli eceran yang datang langsung ke toko fisik sejak pandemi Covid-19. Kondisi tersebut memaksa pelaku usaha mengalihkan fokus pasar pada pengadaan skala besar.

Pesanan dari korporasi, yayasan, hingga agen penyalur tenaga keamanan kini menjadi penopang utama keberlanjutan bisnis para pedagang, seperti dilaporkan oleh Megapolitan. Konsumen saat ini cenderung membandingkan harga komoditas melalui platform pasar digital sebelum bertransaksi.

Dede Rosita (27), seorang penjaga toko perlengkapan dinas di kawasan tersebut, mengungkapkan bahwa fluktuasi jumlah pembeli harian kini sangat terasa di lapangan. Aktivitas jual beli di toko tempatnya bekerja tidak lagi sepadat beberapa tahun yang lalu.

“Kalau sekarang sih ada saja pembeli setiap hari, tapi memang bisa dibilang agak sepi,” ujar Dede saat ditemui Kompas.com di wilayah Kramat, Selasa (19/5/2026).

Penurunan keramaian di pusat pertokoan ini mulai terjadi sejak merebaknya pandemi Covid-19. Sebelumnya, area ini selalu dipadati oleh konsumen yang mencari perlengkapan dinas secara langsung.

“Dulu sebelum Covid lebih ramai,” kata dia.

Kinerja penjualan atribut di kawasan ini juga sangat bergantung pada siklus musim tertentu. Lonjakan permintaan biasanya terjadi bertepatan dengan momen penerimaan anggota baru atau pembukaan pendidikan lembaga pertahanan.

“Misalnya lagi musim pendidikan TNI, barang-barang TNI yang ramai keluar,” ujar Dede.

Toko-toko di sepanjang koridor Kramat menyediakan variasi produk, mulai dari pakaian kerja satpam, kelengkapan taktis, hingga sepatu dinas harian (PDH) dan dinas lapangan (PDL). Nilai jual barang bervariasi mengikuti kualitas material kain.

Satu set seragam satpam berbahan drill lengkap dengan bordiran dibanderol sekitar Rp 250.000. Sementara itu, pakaian dinas loreng TNI ditawarkan pada kisaran Rp 400.000 hingga Rp 600.000 per pasang.

Untuk alas kaki, sepatu model PDL sistem putar generasi terbaru dijual mulai Rp 750.000, sedangkan tipe PDH dihargai sekitar Rp 450.000. Komoditas dengan kualitas premium bahkan dapat menembus angka di atas Rp 1 juta.

Meskipun perdagangan daring tumbuh pesat, kehadiran toko fisik tetap dinilai krusial bagi sebagian konsumen. Interaksi langsung memungkinkan pembeli memeriksa material dan ketepatan ukuran pakaian secara akurat.

“Lumayan terasa. Tapi kalau datang langsung ke toko kan pembeli bisa lihat dan pegang barangnya langsung,” kata dia.

Ketidaksesuaian ukuran dan perbedaan kualitas fisik dengan foto pada platform belanja daring menjadi alasan utama konsumen tetap mendatangi toko fisik.

“Kalau online kadang ukuran atau barangnya tidak sesuai,” ujar Dede.

Sistem pembelian kolektif dari korporasi penumpu utama omzet pedagang saat ini. Perusahaan penyalur tenaga pengaman umumnya memesan dalam volume banyak untuk kebutuhan operasional mereka.

“Kalau perusahaan biasanya bisa lusinan,” katanya.

Selain menyediakan produk siap pakai, gerai-gerai di wilayah Kramat juga memfasilitasi pembuatan pakaian custom sesuai permintaan konsumen. Layanan ini mencakup pembuatan seragam petugas kebersihan hingga topi dengan identitas khusus.

Namun, kebijakan harga untuk pembuatan produk secara satuan dipatok lebih tinggi dibandingkan pemesanan massal.

“Kalau satuan juga bisa, tapi harganya bisa dua sampai tiga kali lebih mahal,” kata Dede.

Pendapatan harian pedagang saat kondisi pasar sedang sepi berada di kisaran Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta. Operasional usaha tetap berjalan berkat kontribusi dari basis pelanggan tetap yang memesan secara berkala.

Aktivitas perdagangan di Jalan Kramat Pulo, Jalan Sedap Malam, hingga area gang sekitar terpantau tetap berdenyut. Kesibukan bongkar muat logistik dan interaksi tawar-menawar harga masih terlihat di sejumlah titik kios sejak pagi hari.

Suara mesin bordir otomatis dan peralatan jahit terdengar intensif dari bagian dalam ruang usaha yang sempit. Para pekerja di area belakang sibuk memotong pola kain dan merangkai pesanan seragam dinas.

Rio (23), salah satu pelaku usaha di sentra tersebut, merasakan perbedaan iklim usaha yang signifikan dibandingkan dengan situasi sepuluh tahun lalu.

“Sekarsng lebih sepi. Dulu sebelum pandemi ramai, sekarang jauh berkurang,” ujar Rio saat ditemui di lapaknya.

Keberadaan platform lokapasar membuat pola konsumsi masyarakat bergeser ke arah yang lebih instan.

“Kebanyakan karena online sih. Orang sekarang lebih praktis, daripada keluar rumah mending beli online,” kata dia.

Guna menyiasati tantangan digitalisasi tersebut, Rio menerapkan strategi pemasaran ganda dengan mengombinasikan penjualan konvensional dan toko daring.

Kontrak pengadaan dari korporasi swasta kini menjadi target pasar yang paling potensial bagi para pelaku usaha di Kramat.

“Ada, biasanya kirim ke PT-PT,” tutur dia.

Volume pemesanan dari sektor perbankan atau perusahaan besar sering kali melampaui angka 100 set pakaian dalam satu kali pengerjaan.

Keberadaan pelanggan loyal menjadi instrumen penting bagi stabilitas bisnis di tengah ketatnya iklim kompetisi pasar saat ini.

“Enggak ada sih, hampir semuanya sama. Paling bedanya pelanggan tetap saja,” ucap Rio.

Pedagang lainnya, Ando (42), mengonfirmasi bahwa transaksi dalam kuantitas besar memberikan kontribusi keuntungan yang lebih stabil dibandingkan dengan penjualan retail.

“Kebanyakan perusahaan outsourcing security, yayasan, sama pembelian pribadi,” ujar Ando.

Momen rekrutmen personel keamanan baru oleh korporasi selalu berdampak positif terhadap volume produksi seragam di kawasan Kramat.

“Kalau lagi ada rekrutmen satpam biasanya order lumayan besar,” katanya.

Aspek kepuasan konsumen terhadap material produk secara langsung menjadi alasan utama mengapa eksistensi toko fisik masih dipertahankan.

Pendapat serupa dikemukakan oleh Sekar Anindhita Wulandari (38) yang menyoroti persaingan ketat harga antara gerai fisik dan marketplace.

“Banyak orang sekarang lebih pilih belanja lewat marketplace karena dianggap lebih praktis dan bisa dari rumah,” kata Sekar.

Tingkat kepercayaan yang telah terbangun lama dengan pelanggan senior menjadi faktor penyelamat bagi kelangsungan usaha para pedagang.

“Kebanyakan pelanggan lama balik lagi karena sudah cocok sama kualitas dan pelayanan di sini,” ujarnya.

Dari perspektif konsumen, Ilham Ramadhan (29), seorang petugas keamanan di perusahaan logistik, memilih bertransaksi langsung di Kramat demi kenyamanan ukuran pakaian.

“Kalau seragam sama sepatu saya lebih nyaman beli langsung. Soalnya bisa dicoba ukuran dan lihat bahannya,” kata Ilham saat ditemui Kompas.com, Selasa.

Pengalaman buruk saat berbelanja atribut secara daring menjadi pemicu keengganannya untuk membeli seragam tanpa melihat fisik barang.

“Beli online ternyata ukurannya kekecilan dan bahannya beda sama foto,” ujarnya.

Sutan Mahesa (35), yang menjabat sebagai staf operasional di perusahaan penyalur satpam, menekankan pentingnya standardisasi mutu produk untuk kebutuhan korporasi.

“Kalau kebutuhan perusahaan lebih aman lihat langsung barangnya,” katanya.

Kesesuaian parameter warna, jenis tekstil, dan bagan ukuran harus dipastikan secara akurat agar selaras dengan regulasi internal instansi.

Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Adrian Nalendra Perwira, menganalisis bahwa ekspansi marketplace tidak serta-merta melenyapkan eksistensi pusat perdagangan tradisional.

“Marketplace tidak mematikan sentra ini, melainkan mengikis fungsi lamanya sebagai tempat kulakan barang standar,” ujar Adrian saat dihubungi melalui WhatsApp, Selasa.

Komoditas standar yang mudah divisualisasikan, seperti sepatu atau aksesori pelengkap, menjadi sektor yang paling terdampak oleh penetrasi pasar digital.

Sebaliknya, jenis layanan yang mengutamakan personalisasi dan akurasi tinggi tetap menjadi keunggulan absolut yang dimiliki oleh toko konvensional di Kramat.

“Nilai tambah toko fisik tinggal kuat kalau mereka bisa menawarkan hal yang tidak mudah direplikasi platform digital,” katanya.

Langkah penyesuaian yang paling efektif bagi pelaku usaha di kawasan ini adalah memadukan kanal penjualan digital dengan penguatan ceruk pasar business-to-business (B2B).

“Adaptasi yang paling masuk akal bukan memilih online atau offline, melainkan menggabungkan keduanya,” ujar Adrian.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah (PPKUKM) DKI Jakarta, Elisabeth Ratu Rante Allo, membenarkan adanya tekanan berat pada trafik toko fisik akibat pola komparasi harga digital oleh konsumen.

“Kondisi ini berdampak pada penurunan trafik toko fisik dan semakin ketatnya persaingan harga,” kata Ratu saat dihubungi Kompas.com melalui WhatsApp, Selasa.

Meski demikian, pihak dinas melihat sentra Kramat memiliki daya tahan yang baik karena karakteristik pasarnya yang spesifik serta penyediaan layanan custom.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas PPKUKM berkomitmen memfasilitasi para pelaku UMKM dengan program peningkatan kapasitas pemasaran digital, teknik live commerce, serta manajemen e-commerce.

“Maka dari itu, Dinas PPKUKM juga akan membantu meningkatkan literasi digital dan pemanfaatan peluang pasar digital,” ujarnya.

Artikel terkait

Rekomendasi