Kehilangan Serangga Penyerbuk Ancam Gizi dan Pendapatan Petani

Kehilangan Serangga Penyerbuk Ancam Gizi dan Pendapatan Petani

Penelitian terbaru dari University of Bristol menemukan bahwa berkurangnya populasi serangga penyerbuk mengancam kesehatan dan kesejahteraan manusia secara langsung melalui penurunan kualitas pangan. Dampak serius ini terungkap dalam studi yang diterbitkan di jurnal Nature pada Rabu (6/5/2026) dengan fokus penelitian pada sepuluh desa pertanian di Nepal.

Hasil observasi menunjukkan ketergantungan ekonomi dan nutrisi yang tinggi terhadap keberadaan serangga liar dalam proses produksi tanaman. Dilansir dari Lestari, serangga penyerbuk tercatat menyumbang 44 persen dari total pendapatan pertanian warga di wilayah tersebut.

Selain aspek finansial, keberadaan serangga ini menjadi penentu asupan mikronutrien esensial bagi masyarakat setempat. Serangga penyerbuk menyediakan lebih dari 20 persen kebutuhan vitamin A, folat, dan vitamin E yang sangat krusial bagi ketahanan tubuh keluarga petani.

Dr. Thomas Timberlake selaku peneliti utama studi ini menegaskan pentingnya menjaga ekosistem penyerbuk untuk keberlangsungan hidup manusia.

"Penelitian kami menunjukkan bahwa keanekaragaman hayati bukanlah sebuah kemewahan. Ini adalah hal mendasar bagi kesehatan, gizi, dan mata pencaharian kita," ungkap Dr. Thomas Timberlake, peneliti utama studi ini.

Tim peneliti memperingatkan bahwa penurunan jumlah serangga dapat menjebak petani dalam lingkaran kemiskinan dan kesehatan buruk akibat kekurangan gizi. Saat ini, setidaknya seperempat penduduk dunia dilaporkan mengalami kelaparan tersembunyi yang diperparah oleh hilangnya keanekaragaman hayati.

Profesor Ekologi Jane Memmott memberikan pandangannya mengenai solusi berbasis alam yang bisa diterapkan untuk mengatasi krisis ini.

"Lebih dari separuh anak-anak dalam penelitian kami stunting. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh pola makan buruk yang sangat bergantung pada sayuran, kacang-kacangan, dan buah-buahan yang dihasilkan lewat bantuan serangga penyerbuk," terang Dr. Naomi Saville dari University College London.

Data stunting tersebut menjadi bukti nyata bagaimana kesehatan manusia terikat erat dengan kondisi alam di sekitarnya. Studi ini menyoroti bahwa upaya pemulihan populasi serangga bukan sekadar masalah lingkungan, melainkan instrumen untuk menjaga stabilitas ekonomi global.

Jane Memmott selaku penulis senior penelitian menguraikan efisiensi dari langkah-langkah pelestarian lingkungan dalam mendukung kehidupan manusia.

"Ada situasi yang menguntungkan semua pihak di mana kita bisa memperbaiki kondisi alam sekaligus membantu manusia secara bersamaan. Ini membutuhkan pemahaman tentang alam, tetapi biayanya sangat murah dan memberikan keuntungan besar bagi kedua belah pihak," tambah Jane Memmott, Profesor Ekologi dan penulis senior.

Para peneliti menyarankan tindakan lokal sederhana seperti menanam bunga liar dan mengurangi pestisida untuk meningkatkan hasil panen. Langkah-langkah praktis ini diproyeksikan dapat membantu memperbaiki mata pencaharian jutaan petani kecil di seluruh dunia yang bergantung pada ekosistem pertanian.

Artikel terkait

Rekomendasi