PT Siloam International Hospitals Tbk. (SILO) tengah menjajaki peluang untuk mengambil alih rumah sakit maupun klinik baru sebagai bagian dari rencana pengembangan bisnis di masa depan. Strategi ekspansi ini disampaikan dalam paparan publik yang berlangsung pada Senin (12/5/2026).
Perusahaan menyatakan kesiapannya untuk tetap fleksibel dalam mengalokasikan belanja modal guna mengevaluasi setiap potensi akuisisi. Dilansir dari Market, langkah ini akan diambil apabila peluang yang ada selaras dengan kebutuhan pasar dan strategi jangka panjang perseroan.
“Kami terbuka beli akuisisi klinik dan rumah sakit, kalau cocok akan kami evaluasi dan melihat peluang,” ujar Elbert Hartanto, CEO Office Siloam.
Manajemen menekankan bahwa meskipun pintu akuisisi terbuka, fokus utama saat ini tetap pada peningkatan standar layanan di jaringan yang sudah ada. Siloam memprioritaskan pengembangan kualitas dokter spesialis serta pemutakhiran teknologi medis guna memperkuat daya saing.
“Kami ingin jadi trend setter di bidang tersebut,” ujarnya.
Dalam upaya transformasi digital, emiten pengelola rumah sakit ini mulai menerapkan teknologi kecerdasan buatan generatif untuk membantu interaksi dengan pasien. Selain itu, penggunaan robot bedah Da Vinci Xi menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam memodernisasi layanan operasional.
“Pasien segmen tersebut prioritasnya sembuh, bukan fasilitas yang mewah. Di situlah strategi efisiensi harus tepat, karena segmen tersebut menguntungkan,” ujarnya.
Elbert juga menjelaskan bahwa penguatan layanan bagi peserta BPJS Kesehatan merupakan strategi kunci untuk meningkatkan volume pasien secara efisien. Hingga saat ini, Siloam mengelola 41 rumah sakit dan 75 klinik yang tersebar di 23 provinsi dengan total kapasitas mencapai 4.310 tempat tidur.
Berdasarkan laporan kinerja tahun 2025, SILO mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 5,24 persen secara tahunan menjadi Rp12,84 triliun. Peningkatan ini didorong oleh jumlah kunjungan rawat jalan yang mencapai 4,35 juta pasien di sepanjang tahun tersebut.
| Indikator Keuangan | Nilai (2025) | Pertumbuhan (YoY) |
|---|---|---|
| Pendapatan | Rp12,84 triliun | 5,24% |
| EBITDA | Rp2,89 triliun | 18,3% |
| Laba Bersih | Rp1,11 triliun | 23,47% |
Laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mengalami kenaikan signifikan dari posisi Rp902,15 miliar pada 2024 menjadi Rp1,11 triliun. Perseroan memutuskan untuk memanfaatkan perolehan laba tersebut demi kepentingan investasi dan pengembangan usaha di masa mendatang dibandingkan membagikannya sebagai dividen.