Perkembangan riset klinis di bidang kanker menjadi faktor krusial bagi peningkatan kualitas pengobatan pasien di tanah air. Namun, dikutip dari Medcom, kontribusi Indonesia dalam penelitian medis ini masih tertinggal dibanding Singapura dan Malaysia.
Kondisi tersebut menjadi pembahasan utama dalam acara The 6th Siloam Oncology Summit 2026 di Jakarta pada 22–24 Mei 2026. Pertemuan ini mempertemukan Executive Director MRCCC Siloam Semanggi Group, dr. Edy Gunawan, dengan Akhmal Yusof dari Clinical Research Malaysia.
Dalam forum tersebut, dr. Edy memaparkan bahwa Indonesia memiliki modal besar berupa jumlah populasi yang masif untuk memegang peran lebih luas dalam riset klinis regional. Dominasi riset di Asia saat ini masih dipegang oleh China, sedangkan Singapura memimpin di Asia Tenggara.
"Bukan dalam konteks kompetisi atau saling mengalahkan, tetapi Indonesia dengan populasi 280 juta penduduk seharusnya bisa memberikan kontribusi yang lebih besar dibanding negara dengan populasi lebih kecil," ujar dr. Edy.
Minimnya jumlah dokter spesialis onkologi di dalam negeri menjadi salah satu hambatan utama yang dihadapi saat ini. Lonjakan kasus kanker memaksa para dokter menghabiskan mayoritas waktu untuk pelayanan pasien, sehingga agenda penelitian terabaikan.
Menurut dr. Edy, komitmen waktu yang tinggi menjadi syarat mutlak dalam clinical research.
"Kalau belajar dari negara maju, mereka memiliki konsep protected time, yaitu waktu khusus yang diproteksi agar dokter bisa fokus melakukan research tanpa terganggu praktik klinis," jelasnya.
Alokasi waktu khusus untuk riset di negara maju dapat mencapai 30 hingga 70 persen dari total jam kerja tenaga medis. Regulasi tersebut memicu keterlibatan aktif hampir seluruh dokter dalam uji klinis.Faktor lain yang menghambat akselerasi uji klinis di Indonesia adalah kesiapan infrastruktur serta teknologi penunjang yang belum merata. Biaya operasional tinggi juga menjadi beban tersendiri karena keterbatasan fasilitas diagnostik mutakhir.
"Kalau pun tersedia, karena resources-nya masih terbatas, biayanya lebih mahal dibanding negara lain. Dari sudut pandang perusahaan farmasi, mereka tentu akan memilih negara dengan biaya yang lebih affordable," katanya.
Pemerintah merespons kendala ini dengan menginisiasi Indonesian Clinical Research Community (INASIRC) sejak tahun 2024. Langkah strategis ini bertujuan memperkuat unit-unit riset klinis di berbagai jaringan rumah sakit.
Di sisi lain, MRCCC Siloam Hospitals telah menggalang pengembangan riset klinis mandiri sejak 2021. Pihak manajemen terus memperbaharui investasi teknologi medis guna menopang ekosistem penelitian kanker lokal.
"Makanya kenapa MRCCC selalu menghadirkan teknologi baru. Ketika dibutuhkan pemeriksaan tertentu untuk clinical research, kita punya. Perlu testing tertentu, kita punya," ujarnya.
Sebagai perbandingan, Clinical Research Malaysia mencatatkan lompatan performa yang masif di Asia Tenggara dalam periode beberapa tahun terakhir. Sinergi antarnegara dan modernisasi fasilitas riset diharapkan mampu mendongkrak kesiapan Indonesia dalam inovasi kesehatan global.