Dua warga Singapura menjalani isolasi di National Centre for Infectious Disease (NCID) pada Kamis (7/5/2026) setelah sempat berada di kapal pesiar MV Hondius yang dilanda wabah hantavirus. Dilansir dari Detik Health, langkah ini diambil otoritas kesehatan setempat guna mencegah potensi penyebaran virus mematikan tersebut di wilayah Singapura.
Communicable Diseases Agency (CDA) mengonfirmasi bahwa kedua individu tersebut merupakan seorang pria warga negara Singapura berusia 67 tahun dan seorang penduduk tetap berusia 65 tahun. Keduanya tiba di Singapura pada waktu yang berbeda, yakni tanggal 2 Mei dan 6 Mei, setelah melakukan perjalanan internasional dari Afrika Selatan.
Pemeriksaan laboratorium saat ini tengah dilakukan untuk memastikan status infeksi kedua pasien tersebut di fasilitas isolasi. CDA menjelaskan bahwa hasil diagnosa masih dalam proses pengerjaan oleh tim medis terkait.
"Hasil tes mereka belum siap," kata CDA dalam pernyataannya pada Kamis (7/5/2026), dikutip dari The Straits Times.
Lembaga kesehatan tersebut merinci bahwa salah satu pasien menunjukkan gejala pilek ringan, sementara pasien lainnya tidak memiliki gejala sama sekali. Penelusuran riwayat perjalanan menunjukkan keduanya sempat berada dalam satu pesawat dengan pasien positif hantavirus yang meninggal dunia di Afrika Selatan.
"Kasus yang dikonfirmasi tersebut tidak melakukan perjalanan ke Singapura dan kemudian meninggal di Afrika Selatan," beber CDA.
Otoritas juga menegaskan bahwa pelacakan kontak erat akan segera dilakukan jika ditemukan hasil positif pada salah satu pasien. Seluruh protokol kesehatan diterapkan untuk memitigasi risiko infeksi hantavirus yang dapat berakibat fatal bagi penderitanya.
Hingga saat ini, klaster kapal pesiar MV Hondius telah mencatat delapan kasus hantavirus, termasuk tiga orang yang dinyatakan meninggal dunia. Profesor Ooi Eng Eong dari Duke-NUS Medical School memberikan penjelasan mengenai karakteristik virus yang biasanya bersumber dari hewan pengerat ini.
"Hantavirus dapat ditularkan dari hewan pengerat ke manusia melalui makanan yang terkontaminasi, gigitan tikus, dan cakaran. Namun demikian, penularan dari manusia ke manusia jarang terjadi," tutur Profesor Ooi Eng Eong.
Akademisi tersebut menambahkan bahwa spektrum gejala infeksi ini sangat luas, mulai dari kondisi ringan hingga gangguan fungsi organ yang berat. Kewaspadaan tetap diperlukan meskipun risiko penularan antarmanusia dinilai cukup rendah.
"Infeksi dapat menyebabkan berbagai gejala dan penyakit, mulai dari demam ringan hingga demam berdarah dan sindrom ginjal serta sindrom paru hantavirus," lanjut Profesor Ooi Eng Eong.
Jika hasil tes menunjukkan negatif, kedua warga tersebut tetap diwajibkan menjalani masa karantina selama 30 hari sebagai bentuk antisipasi masa inkubasi virus. Otoritas Singapura akan melakukan pemantauan kesehatan jarak jauh melalui aplikasi khusus hingga hari ke-45 masa observasi.