PT Singaraja Putra Tbk (SINI) tengah bersiap menggelar aksi korporasi penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD I) atau rights issue. Perusahaan yang berencana membeli aset milik PT Petrosea Tbk (PTRO) ini bakal merilis sebanyak-banyaknya 721.500.000 saham biasa dengan nilai nominal Rp 100 per saham, seperti dikutip dari Investasi.
Total saham yang akan dilepas tersebut setara dengan 60% dari modal yang telah ditempatkan dan disetor penuh setelah proses rights issue selesai. Setiap pemilik dua saham lama yang terdaftar dalam daftar pemegang saham (DPS) pada 10 Juli 2026 pukul 16.00 WIB berhak memperoleh tiga HMETD.
Satu HMETD memberikan hak kepada pemiliknya untuk menebus satu saham baru dengan harga pelaksanaan sebesar Rp 5.000 per saham. Pembayaran tersebut wajib diselesaikan secara penuh pada saat penyerahan formulir pemesanan saham.
Nilai pelaksanaan rights issue ini tercatat berada di bawah harga pasar sekunder. Pada perdagangan Selasa (2/6/2026) hingga pukul 14.58 WIB, saham SINI sempat mengalami penurunan sebesar 10% ke level Rp 10.800 per saham.
"Jumlah dana yang akan diterima perusahaan dalam PMHMETD I ini sebanyak-banyaknya sebesar Rp 3.607.500.000.000," kata Direktur Utama SINI, Amir Antolis dalam keterbukaan informasi, Selasa (2/6/2026) malam.
Pemegang saham pengendali SINI yang terdiri dari PT Autum Prima Indonesia (API) dengan kepemilikan 30% atau 144,30 juta saham, Batubara Development Pte. Ltd sebesar 15,49% atau 78,03 juta saham, dan Hapsoro sebesar 9% atau 43,29 juta saham berkomitmen mengeksekusi sebagian haknya minimal 180 juta HMETD yang bernilai Rp 900 miliar.
Sementara itu, PT Kreasi Jasa Persada (KJP) yang menguasai 19,74% atau 94,94 juta saham SINI memilih mengalihkan seluruh haknya sebanyak 142,41 juta HMETD senilai Rp 712,05 miliar kepada PT Petrosea Tbk (PTRO). Sebaliknya, PTRO sebagai pemilik 0,252% atau 1,21 juta saham SINI akan mengeksekusi seluruh porsi haknya sebanyak 1,82 juta HMETD.
PTRO juga akan mengambil alih serta melaksanakan seluruh HMETD yang dialihkan oleh KJP, sehingga akumulasi hak yang dipegang mencapai 144,23 juta HMETD.
Selain itu, PTRO bakal bertindak sebagai pembeli siaga (standby buyer) untuk menyerap sisa saham yang tidak diambil oleh pemegang HMETD lain dengan komitmen maksimal Rp 580,90 billion. Jika masih terdapat sisa saham setelah pelaksanaan HMETD, pemesanan tambahan, dan eksekusi pembeli siaga, maka SINI tidak akan menerbitkan sisa saham tersebut.
Terkait alokasi dana, Amir menjelaskan bahwa sebesar Rp 1,51 triliun dari hasil rights issue akan dipakai untuk mencaplok 507.380.875 saham PT Kemilau Mulia Sakti (KMS) milik PTRO yang setara dengan 99,995% modal disetor KMS.
Selanjutnya, dana senilai Rp 900 miliar akan dialokasikan untuk mempercepat pembayaran pokok utang SINI kepada pihak kreditur. Sisa dana bersih akan dimanfaatkan sebagai modal kerja bagi perusahaan maupun entitas anak usahanya.
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama menilai langkah ini berdampak positif karena dana tidak hanya memperkuat permodalan, tetapi juga memperluas basis aset dan sumber pendapatan SINI melalui akuisisi KMS.
Alokasi dana untuk pelunasan utang lebih awal juga dipandang berpotensi memperbaiki kondisi neraca, menekan beban bunga, serta menaikkan fleksibilitas finansial. Komitmen PTRO sebagai pembeli siaga pun menjadi sinyal kuat dukungan pemegang saham pengendali terhadap keberhasilan rencana ini.
"Namun dari sisi pasar, harga pelaksanaan right issue yang berada jauh di bawah harga pasar berpotensi menimbulkan kekhawatiran terkait dilusi sehingga dalam jangka pendek dapat memicu volatilitas harga saham," ucap Elandry kepada Kontan, Rabu (6/3/2026).
Secara fundamental, kesuksesan aksi korporasi ini akan sangat bergantung pada efektivitas pengelolaan dana serta kontribusi profitabilitas dari aset baru yang diakuisisi terhadap pendapatan SINI kelak.
Jika proses akuisisi mendatangkan sinergi operasional, menaikkan pendapatan berulang, dan memangkas rasio utang secara signifikan, maka aksi ini berpeluang memberikan nilai tambah bagi investor dalam jangka menengah hingga panjang.
"Bagi investor, saya rasa yang perlu dicermati bukan hanya besarnya dana yang dihimpun, tetapi juga proyeksi return dari aset yang diakuisisi, perubahan struktur kepemilikan pasca right issue, serta potensi pertumbuhan laba setelah aksi korporasi selesai," jelas Elandry.
Dalam jangka pendek, perhatian pasar biasanya akan lebih tertuju pada risiko dilusi saham, sedangkan dampak fundamental positif baru akan terlihat setelah kinerja keuangan terealisasi.
Saat ini, Elandry merekomendasikan saham SINI sebagai pilihan beli spekulatif (speculative buy) bagi para investor yang memiliki toleransi risiko tinggi sembari menunggu kejelasan kontribusi dari aset baru tersebut.
Mengenai target harga jangka panjang, Elandry memandang masih terlalu awal untuk menetapkan valuasi yang presisi sebelum ada rincian proyeksi keuangan serta penilaian aset KMS pasca-rights issue.
"Oleh karena itu, saya lebih memilih menunggu pembaruan proforma keuangan dan realisasi penggunaan dana sebelum melakukan revisi target harga secara fundamental," tambahnya.