Pelabuhan Tanjung Priok Siapkan Delapan Skenario Mitigasi Krisis

Pelabuhan Tanjung Priok Siapkan Delapan Skenario Mitigasi Krisis

Manajemen Pelabuhan Tanjung Priok memetakan delapan skenario risiko operasional dalam dokumen Business Continuity Management System (BCMS) guna mengantisipasi krisis di kawasan pelabuhan pada Selasa (12/5/2026). Langkah strategis ini bertujuan menjaga stabilitas arus logistik di gerbang utama perdagangan internasional Indonesia.

Penyusunan dokumen ini dilatarbelakangi oleh identifikasi risiko kawasan yang melibatkan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Utama Tanjung Priok, Pelindo Regional 2, serta operator terminal. Dilansir dari Megapolitan, terdapat delapan ancaman kritikal yang menjadi fokus utama dalam mitigasi tersebut.

Ketua Tim Penyusun BCMS Pelabuhan Tanjung Priok Tedy Herdian merinci risiko tersebut meliputi pandemi kesehatan, terorisme, kerusuhan massa, kebakaran besar, tumpahan minyak, kemacetan logistik, gangguan listrik, hingga bencana alam.

"Dokumen BCMS ini bersifat dinamis dan akan terus dikembangkan mengikuti perkembangan risiko, kompleksitas operasional pelabuhan, serta tantangan rantai pasok global," katanya Tedy Herdian, Ketua Tim Penyusun BCMS Pelabuhan Tanjung Priok.

Penajaman dokumen ini disesuaikan dengan perubahan kondisi lingkungan dan teknologi yang memengaruhi efisiensi pelabuhan. Pengelola memastikan bahwa sistem ini tidak hanya menjadi dokumen administratif, melainkan panduan operasional yang adaptif.

Kepala KSOP Utama Tanjung Priok Kapten Heru Susanto menegaskan pentingnya sistem ini mengingat Tanjung Priok melayani lebih dari 50 persen arus peti kemas internasional tanah air. Gangguan di wilayah ini dinilai dapat memicu dampak domino pada distribusi energi, pangan, dan rantai pasok industri nasional.

"Sebagai regulator, peran kami bukan hanya menetapkan aturan, tetapi memastikan seluruh ekosistem pelabuhan bergerak dalam satu irama ketika krisis terjadi," ujarnya Kapten Heru Susanto, Kepala KSOP Utama Tanjung Priok.

Guna menguji kesiapan sistem, pemangku kepentingan menggelar Joint Exercise Business Continuity Management System dengan skenario kecelakaan kapal. Simulasi ini menitikberatkan pada penanganan tumpahan minyak akibat kegagalan mesin kapal di kolam pelabuhan.

Agenda simulasi ini melibatkan lebih dari 30 pemangku kepentingan untuk menguji fungsi pusat komando dan koordinasi antar-terminal. Latihan tersebut mencakup pengamanan alur pelayaran hingga prosedur pemulihan operasional setelah insiden terjadi.

Artikel terkait

Rekomendasi