PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI menyepakati perjanjian pembiayaan investasi maksimal Rp125 miliar dengan PT Greenroof Energy Indonesia (GREI) pada Jumat (22/5). Kerja sama finansial ini ditujukan untuk pembiayaan kembali atau refinancing proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap milik GREI yang telah beroperasi, seperti dilansir dari Keuangan.
Kredit investasi tersebut menjadi langkah strategis kedua belah pihak dalam memperluas ekosistem pembiayaan hijau. Sektor komersial dan industri di Indonesia menjadi fokus utama dari pengembangan energi baru terbarukan ini.
Direktur Pembiayaan dan Investasi PT SMI Sylvi Gani menjelaskan bahwa penyaluran dana tersebut memegang peran penting dalam mempercepat program transisi energi nasional.
"Kolaborasi dengan PT GREI diharapkan dapat memperluas pemanfaatan energi surya di sektor komersial dan industri, sekaligus memperkuat upaya Indonesia dalam mencapai target transisi energi dan pengurangan emisi karbon," ujar Sylvi Gani, Direktur Pembiayaan dan Investasi PT SMI.
Sementara itu, pihak pengembang menilai dukungan pendanaan ini sebagai katalis positif bagi ekspansi pemanfaatan energi bersih.
"Kami percaya pemanfaatan energi surya tidak hanya memberikan manfaat lingkungan, tetapi juga mampu menciptakan efisiensi energi dan membuka peluang pertumbuhan ekonomi hijau yang lebih luas," kata Eduardus Pandik, Direktur PT GREI.
Penyediaan energi bersih oleh PT GREI dilakukan lewat skema jangka panjang tanpa membebankan investasi awal kepada pelanggan. Melalui model ini, seluruh biaya dari instalasi hingga pemeliharaan ditanggung oleh perusahaan.
Langkah penambahan porsi energi terbarukan ini selaras dengan regulasi bauran energi pemerintah. Di kancah regional, induk perusahaan CN Green Roof Asia menargetkan peningkatan kapasitas platform energi surya dari 110 MW menjadi 500 MW dalam lima tahun ke depan di Asia Tenggara, termasuk Filipina dan Vietnam.
CN Green Roof Asia Pte. Ltd. sendiri merupakan perusahaan patungan dari Norfund dan Climate Fund Managers melalui Climate Investor One (CI1). CI1 merupakan fasilitas pembiayaan campuran bernilai US$1 miliar yang menyasar infrastruktur energi terbarukan di pasar negara berkembang.
Fasilitas pendanaan global tersebut memperoleh sokongan dari investor publik dan swasta. Komisi Uni Eropa turut terlibat memberikan dukungan lewat program Global Gateway demi menyokong aksi iklim serta investasi infrastruktur hijau.