SpaceX Siapkan IPO Jumbo Meski Elon Musk Tolak Jual Saham

SpaceX Siapkan IPO Jumbo Meski Elon Musk Tolak Jual Saham

Perusahaan antariksa SpaceX tengah mempersiapkan pengajuan penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) yang dipercepat ke Juni 2026, di tengah penegasan pemilik perusahaan bahwa dirinya tidak akan melepas kepemilikan sahamnya.

Rencana pencatatan saham perdana tersebut berpotensi menjadi yang terbesar dalam sejarah pasar modal dengan target penghimpunan dana mencapai 75 miliar dollar AS dan valuasi melampaui 2 triliun dollar AS.

Langkah korporasi ini terungkap setelah dokumen pengajuan dilakukan secara rahasia ke Securities and Exchange Commission (SEC), seperti dilansir dari Money berdasarkan laporan Bloomberg pada Sabtu (16/5/2026).

Pendiri SpaceX merespons langsung kabar ini melalui platform X setelah seorang pengguna menyarankannya untuk menjual saham pasca-masa lockup IPO berakhir.

“Saya tidak menjual saham apa pun,” tulis Elon Musk, Pemilik SpaceX.

Sebelum melantai di bursa Nasdaq dengan kode saham SPCX, para pemegang saham perusahaan roket, satelit, dan kecerdasan buatan tersebut telah menyetujui aksi pemecahan saham atau stock split dengan rasio 5 banding 1.

Kebijakan penyesuaian modal ini diambil berdasarkan rekomendasi dari dewan perusahaan guna memperluas akses bagi para investor sebelum pencatatan resmi dimulai, sebagaimana dikutip dari Reuters.

“Menyetujui pemecahan saham 5 banding 1,” demikian isi keputusan pemegang saham SpaceX.

Melalui keputusan stock split tersebut, nilai pasar wajar dari saham perusahaan disesuaikan menjadi sekitar 105,32 dollar AS per lembar dari nilai awal yang mencapai 526,59 dollar AS per lembar.

Proses administrasi di SEC yang berjalan lebih cepat membuat jadwal roadshow pemasaran resmi dimajukan ke awal Juni 2026, dengan penetapan harga saham pada 11 Juni dan pencatatan di bursa pada 12 Juni 2026.

Untuk memuluskan aksi korporasi di Wall Street ini, SpaceX juga telah menggandeng sejumlah bank investasi global sebagai penjamin emisi utama, termasuk Morgan Stanley, Bank of America, Citigroup, JPMorgan Chase, dan Goldman Sachs.

Artikel terkait

Rekomendasi