SpaceX Siapkan IPO Terbesar Sepanjang Sejarah Modern pada 2026

SpaceX Siapkan IPO Terbesar Sepanjang Sejarah Modern pada 2026

Rencana besar sedang disiapkan oleh Elon Musk untuk membawa perusahaan antariksa miliknya, SpaceX, melantai di bursa saham melalui penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO).

Langkah strategis ini diprediksi menjadi salah satu penjualan saham paling masif dalam sejarah pasar modal global, seperti dikutip dari Money.

Dokumen pengajuan yang dirilis pada Rabu menunjukkan bahwa performa keuangan perusahaan yang bernama resmi Space Exploration Technologies Corp ini sebenarnya masih membukukan kerugian besar.

Sepanjang tahun lalu, kerugian SpaceX menembus angka 2,6 miliar dollar AS atau setara Rp 45,9 triliun dengan acuan kurs Rp 17.687 per dollar AS.

Padahal pada periode yang sama, pendapatan total yang berhasil dibukukan perusahaan melonjak hingga mencapai 18,7 billion dollar AS atau berkisar Rp 330,7 triliun.

Tren kerugian finansial tersebut dilaporkan masih terus berlanjut hingga memasuki awal tahun ini.

Kendati belum menetapkan target pendanaan secara resmi, sejumlah laporan menyebutkan SpaceX mengincar dana segar sekitar 75 miliar dollar AS atau mendekati Rp 1.326 triliun lewat IPO ini.

Apabila target tersebut terealisasi, aksi korporasi SpaceX bakal mengukuhkan posisi sebagai IPO terbesar dalam sejarah modern.

Nilai tersebut otomatis mengalahkan rekor raksasa minyak Saudi Aramco yang menghimpun dana sebesar 26 miliar dollar AS saat melantai di bursa pada tahun 2019 silam.

Manajemen SpaceX mengumumkan bahwa seluruh dana yang didapatkan dari hasil IPO bakal dialokasikan penuh untuk membiayai ambisi proyek kolonisasi luar angkasa.

Pelaksanaan IPO sendiri ditargetkan berjalan pada tahun 2026 dengan perolehan dana minimal lebih dari 25 miliar dollar AS.

Keberhasilan aksi pasar modal ini berpotensi mendongkrak nilai valuasi total perusahaan Elon Musk melampaui angka 1 triliun dollar AS.

Pihak perusahaan menegaskan misi utama dari korporasi ini adalah memfasilitasi perjalanan manusia menuju Bulan dan Mars demi memelihara keberlangsungan spesies.

“Kami tidak ingin manusia mengalami nasib yang sama seperti dinosaurus,” tulis SpaceX dalam dokumen prospektusnya.

Ambis besar Elon Musk terlihat sangat jelas di dalam dokumen prospektus yang telah dipublikasikan tersebut.

Sistem kompensasi serta insentif saham bagi Musk dirancang khusus agar terikat langsung dengan realisasi pembangunan koloni manusia permanen di Planet Mars.

Berdasarkan rincian dokumen, sang pemilik baru bisa mencairkan sebagian bonus saham jika sukses mendirikan koloni tetap dengan populasi minimal satu juta penduduk di Mars.

Jika seluruh proses IPO berjalan lancar tanpa hambatan, Musk berpeluang besar mengukuhkan diri sebagai triliuner pertama di dunia.

Berdasarkan data terkini dari Forbes, estimasi total kekayaan bersih yang dimiliki Musk saat ini berada di angka 839 miliar dollar AS atau setara Rp 14.840 triliun.

Di luar bisnis utama manufaktur roket, SpaceX ditopang oleh beberapa lini usaha sekunder dengan catatan performa finansial yang bervariasi.

Layanan internet satelit Starlink sejauh ini tampil sebagai mesin pencetak pendapatan terbesar bagi korporasi.

Lini bisnis internet satelit itu sukses mencatatkan perolehan laba operasional sebesar 4,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 77,8 triliun pada tahun lalu.

Starlink kini tercatat mengoperasikan sekitar 10.000 satelit di orbit rendah bumi dan melayani total 10 juta pelanggan yang tersebar di 150 negara dan wilayah.

Meski demikian, ekspansi bisnis komersial milik Elon Musk tidak semuanya berjalan mulus.

Platform media sosial X yang dulunya bernama Twitter, serta perusahaan kecerdasan buatan xAI, dilaporkan masih mengalami defisit atau kerugian finansial yang masif.

Kedua entitas bisnis tersebut belum lama ini resmi diakuisisi oleh SpaceX.

Keputusan akuisisi ini memicu gelombang kritik dari sebagian investor yang menilai langkah tersebut sebagai bentuk penyelamatan paksa terhadap unit usaha yang bermasalah.

Data dari prospektus mengungkap bahwa unit bisnis kecerdasan buatan xAI menderita kerugian hingga 6,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 113,2 triliun pada tahun lalu.

Sorotan Atas Kontrak Pemerintah dan Kendali Mutlak Musk

Aktivitas bisnis inti SpaceX di bidang peluncuran satelit dan produksi roket selama ini sangat bergantung pada sokongan kontrak dari pemerintah Amerika Serikat.

Ketergantungan ini memicu perdebatan baru di ruang publik mengenai relasi kedekatan antara Musk dengan pemerintahan Donald Trump.

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, SpaceX sukses mengamankan kontrak senilai 6 miliar dollar AS atau sekitar Rp 106,1 triliun dari NASA, Departemen Pertahanan AS, serta instansi federal lainnya.

Bahkan, sekitar seperlima dari total pendapatan keseluruhan SpaceX pada tahun lalu bersumber langsung dari dana pemerintah federal Amerika Serikat.

Kondisi ini membuat sejumlah lembaga pengawas etika mempertanyakan potensi adanya perlakuan istimewa yang didapatkan SpaceX akibat kedekatan politik tersebut.

Musk dikenal luas sebagai salah satu penyumbang dana terbesar dalam kampanye politik Trump, walau dinamika hubungan keduanya kadang kala memperlihatkan ketegangan.

Dokumen resmi IPO juga mengonfirmasi bahwa kendali manajerial penuh atas SpaceX akan tetap berada di tangan Elon Musk.

Mekanisme ini diatur melalui kepemilikan struktur saham kelas khusus bagi Musk dan sejumlah pemegang saham terpilih.

Satu lembar saham kelas khusus ini memiliki hak kekuatan sepuluh suara, jauh lebih tinggi dibandingkan saham reguler.

Sistem tersebut menjamin posisi mereka untuk tetap menguasai hak suara mayoritas di jajaran dewan direksi SpaceX.

“Ini akan membatasi atau menghalangi kemampuan Anda untuk memengaruhi urusan perusahaan dan pemilihan direksi kami,” tulis SpaceX dalam peringatan kepada calon investor.

Pemberian paket kompensasi untuk Musk juga dirancang bertahap mengikuti perkembangan nilai kapitalisasi pasar perusahaan.

Prospektus menyebutkan insentif saham dibagi ke dalam 15 tahapan, di mana masing-masing tahap terdiri atas sekitar 67 juta lembar saham.

Seluruh bonus tersebut baru akan dicairkan secara utuh apabila nilai kapitalisasi pasar SpaceX mampu menembus target ekstrim sebesar 7,5 triliun dollar AS atau setara Rp 132.652 triliun.

Selain itu, Musk dijanjikan bonus saham tambahan jika SpaceX berhasil merealisasikan proyek pembangunan pusat data raksasa di luar angkasa.

Sebaliknya, gaji pokok tahunan yang diterima Musk dari SpaceX tergolong sangat kecil untuk ukuran miliarder, yaitu hanya 54.080 dollar AS atau sekitar Rp 956,7 juta per tahun.

Besaran gaji pokok tahunan tersebut tercatat tidak pernah mengalami perubahan atau kenaikan sejak tahun 2019.

Berdasarkan jadwal yang disusun, SpaceX diperkirakan bakal memulai agenda road show atau presentasi resmi kepada calon investor pada 4 Juni mendatang.

Artikel terkait

Rekomendasi