Maskapai berbiaya rendah Spirit Airlines resmi menghentikan seluruh operasionalnya secara mendadak pada awal Mei 2026 setelah mengalami kebangkrutan untuk kedua kalinya. Penutupan ini menyusul kegagalan rencana penyelamatan pemerintah Amerika Serikat di tengah melonjaknya harga bahan bakar akibat ketegangan geopolitik dengan Iran.
Keputusan penghentian operasional ini diambil setelah Gedung Putih menolak memberikan paket bantuan keuangan atau bailout senilai USD 500 juta. Kondisi finansial perusahaan dinilai sudah tidak berkelanjutan oleh sejumlah pejabat kementerian meski sempat ada pembicaraan mengenai penguasaan mayoritas saham oleh pemerintah sebagaimana dilansir dari Detik Travel.
Presiden Donald Trump sebelumnya sempat menunjukkan ketertarikan untuk memberikan bantuan kepada maskapai tersebut karena melihat potensi aset yang dimiliki perusahaan.
"Mereka punya pesawat yang bagus, aset yang baik, dan ketika harga minyak turun, kita bisa menjualnya kembali dengan keuntungan," ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Dukungan Trump tersebut tidak berjalan mulus karena adanya pertentangan di internal pemerintahan. Menteri Perdagangan Howard Lutnick mendukung kesepakatan itu, namun Menteri Transportasi Sean Duffy bersama Stephen Miller dan Kevin Hassett menolak rencana penyuntikan dana ke perusahaan dengan rekam jejak keuangan buruk.
Pihak pemerintah juga sempat berupaya mendorong akuisisi Spirit oleh perusahaan penerbangan lain, tetapi tidak ada maskapai yang berminat. Setelah bailout resmi ditolak pada hari Kamis, Spirit Airlines mengeluarkan pernyataan resmi mengenai pembatalan seluruh jadwal penerbangan.
"Seluruh penerbangan Spirit telah dibatalkan dan para calon penumpang Spirit diimbau untuk tidak datang ke bandara," tulis Spirit.
Penghentian mendadak ini memicu ketegangan politik antara pendukung Trump dengan politisi Demokrat. Penasihat luar Trump, Alex Bruesewitz, menyalahkan kegagalan merger Spirit dengan JetBlue di masa lalu sebagai penyebab utama kehancuran maskapai saat ini.
"Jika Spirit Airlines gagal, kesalahan akan sepenuhnya jatuh pada Elizabeth Warren yang gila dan Pemerintahan Biden. Kebijakan anti-kapitalis mereka membunuh merger Spirit-JetBlue yang seharusnya menyelamatkan maskapai dan melindungi pekerjaan para pekerjanya," tulis Bruesewitz melalui media sosial.
Senator Elizabeth Warren segera memberikan tanggapan balik atas tuduhan tersebut. Ia menegaskan bahwa kenaikan biaya operasional akibat kebijakan luar negeri menjadi faktor penentu kegagalan maskapai.
"Kenaikan harga bahan bakar akibat perang Trump adalah paku terakhir di peti mati maskapai Spirit yang telah dua kali bangkrut," tulis Warren dalam akun media sosialnya.
Dampak penutupan ini sangat dirasakan oleh para penumpang yang sedang melakukan perjalanan, terutama mereka yang terjebak di bandara transit tanpa kejelasan layanan pelanggan. Di Fort Lauderdale, banyak koper penumpang tertahan di sistem penanganan bagasi yang tidak lagi beroperasi.
"Saya tidak bisa terbang karena tas saya tidak ada, jadi saya terjebak di sini," ujar seorang penumpang kepada NBC6.
Penumpang lain, Grace Florez, yang melakukan perjalanan menuju Kolombia, turut menyuarakan rasa frustrasinya karena kehilangan akses terhadap barang-barangnya selama dua hari terakhir.
"Ini sulit dan membuat frustrasi. Saya mencoba untuk tidak stres, tapi saya harus bekerja besok," keluh Grace.
Hingga saat ini, belum ada prosedur jelas mengenai pengambilan bagasi atau kompensasi bagi ribuan penumpang yang terdampak. Seluruh layanan pelanggan Spirit Airlines telah berhenti berfungsi sepenuhnya seiring dengan pengumuman penutupan tersebut.
"Saya benar-benar tidak tahu apa-apa. Saya hanya bisa berharap koper saya ada di suatu tempat di belakang sana. Saya tidak tahu harus berbuat apa selain menunggu," jelas Grace.